Home / Patient Story / Suka Cita Wira

Suka Cita Wira

Di usianya yang masih 4 tahun, Wira Mahardika Paramitha (Wira) didiagnosa menderita penyakit jantung bawaan. Sebagai orangtua, Mulyadi dan Lokasari berniat memberikan yang terbaik dengan membawanya ke Eka Hospital.

Tidak pernah terbayang di benak Lokasari bahwa anak keduanya akan menderita penyakit yang cukup berat. Pada saat mengandung, sang ibu tidak mengetahui adanya kelainan pada anaknya. Wira lahir normal dengan berat 3,85 kg dan tumbuh sehat. Namun saat usianya 1,5 tahun, ia mendadak kurus. Berat badannya menyusut drastis dan hal tersebut membuat ibunya sempat kebingungan.

Apalagi seperti kebanyakan anak kecil, Wira tidak pernah mengeluh ada rasa sakit. Hanya saja, ia mudah sekali merasa lelah. Sehabis bermain dengan teman-temannya, Wira biasanya langsung masuk ke kamar untuk tidur karena ia cepat lelah. Selain itu, ketika menangis wajahnya membiru. Hal itulah yang membuat Lokasi merasa ada sesuatu yang tidak beres pada kesehatan anaknya.

Setelah memeriksakan kesehatan Wira ke dokter spesialis anak, dokter mengatakan adanya kemungkinan terdapat kelainan pada jantung bocah itu. Tanpa membuang banyak waktu, setelah melakukan tes Echo, atas saran dokter tersebut, kedua orangtua Wira langsung membawa putra mereka ke dokter spesialis jantung anak. Berdasarkan hasil pencarian di internet dan referensi dari beberapa koleganya, ibunda Wira memilih untuk berkonsultasi dengan dr. Sukman Tulus Putra, dokter spesialis anak konsultan jantung anak di Eka Hospital BSD, yang telah berpengalaman dalam menangani kasus kelainan jantung bawaan pada anak.

Hasil diagnosa menunjukkan bahwa Wira menderita PDA (patent ductus arteriosus), yaitu kebocoran jantung yang merupakan salah satu penyakit jantung bawaan (PJB) yang sering ditemukan pada bayi dan anak. PDA pada jantung Wira harus segera ditutup karena bila tidak, maka akan menimbulkan kompilkasi yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah di paru, terganggunya pertumbuhan, dan risiko infeksi di jantung (endokarditis). Bila kebocorannya besar, jantung menjadi lemah sehingga timbul gagal jantung.

Awalnya ibunda Wira sempat takut membayangkan operasi yang akan dilakukan, mengingat usia putranya yang masih sangat dini. Dr. Sukman menjelaskan bahwa prosedur yang dilakukan bukanlah prosedur bedah melainkan prosedur intervensi tanpa pembedahan. Mendengar penjelasan dari Dr. Sukman, akhirnya kedua orangtua Wira menyetujui untuk dilakukannya prosedur intervensi demi kepentingan dan kesehatan jantung anaknya.

Prosedur intervensi (pengobatan PJB tanpa operasi), merupakan teknik kedokteran mutakhir yang dapat menutup PDA dengan alat yang disebut Amplatzer Duct Occluder (ADO). Alat tersebut dimasukkan melalui pembuluh darah di lipat paha, kemudian didorong dengan kateter menuju jantung. Setelah sampai di tempat yang bocor (PDA), alat tersebut dilepas dengan teknik tertentu sehingga tepat posisinya dan dapat menutup sempurna kebocoran yang ada.

Tindakan intervensi merupakan opsi yang banyak diharapkan oleh orangtua yang anaknya menderita PJB. Namun sayangnya memang tehnik pengobatan tanpa operasi ini belum dapat dilakukan secara merata di seluruh tanah air karena keterbatasan fasilitas dan tenaga dokter yang terlatih. Eka Hospital merupakan salah satu rumah sakit bertaraf internasional yang menyediakan fasilitas dan tenaga dokter terlatih untuk tindakan intervensi, salah satunya dr. Sukman Tulus Putra, dokter spesialis anak konsultan jantung anak di Eka Hospital BSD.

Pasca tindakan intervensi, Wira yang ditemui tengah beristirahat di ruang rawat inap anak Eka Hospital sudah tampak ceria. Ditemani ibunda tercinta, Wira asik bermain dan menunjukkan respon positif terhadap percakapan yang terjadi sore itu. Suka cita tak hanya tampak di wajah Wira namun juga terpancar jelas di wajah ibundanya. Suka Cita Wira adalah cerminan kesehatannya…semoga akan selalu mengiringi langkah-langkah bocah itu menuju masa depan.