
Anak susah BAB sering kali dianggap sepele, padahal sembelit pada anak jika dibiarkan dapat menghambat proses tumbuh kembang dan kesehatan pencernaan mereka dalam jangka panjang.
Simak penjelasan mengenai penyebab, gejala, dan cara mengatasi anak susah BAB serta sembelit pada anak oleh Dr. dr. Eva Jeumpa Soelaeman, Sp.A (K)Konsultan Gastroentero Hepatologi Anak di Eka Hospital MT Haryono.
Apa itu konstipasi atau sembelit pada anak?
Dr. dr. Eva Jeumpa Soelaeman, Sp.A (K) menjelaskan konstipasi atau sembelit pada anak adalah kondisi di mana frekuensi BAB anak berkurang dari biasanya, biasanya kurang dari tiga kali dalam seminggu. Selain frekuensi yang jarang, kondisi anak susah BAB ini juga ditandai dengan tekstur kotoran yang keras, kering, dan berukuran besar, sehingga anak harus mengejan keras atau merasa kesakitan saat mengeluarkannya.
Gejala dan tanda sembelit pada anak
Menurut Dr. dr. Eva Jeumpa Soelaeman, Sp.A (K), orang tua perlu mengenali tanda-tanda sembelit pada anak, terutama bagi anak yang belum bisa berkomunikasi dengan lancar. Gejala anak susah BAB tersebut meliputi:
- Frekuensi BAB kurang dari 3 kali seminggu.
- Perhatikan bentuk dan konsistensi pup anak, gunakan panduan Bristol Stool Chart
- Anak kesakitan, bahkan menangis, ketika mengejan, atau melengkungkan punggung saat BAB.
- Perut anak terasa keras dan tampak buncit saat diraba.
- Adanya bercak darah segar pada feses akibat robekan kecil di anus.
- Anak sengaja menahan BAB, seperti menyilangkan kaki, meremas bokong, atau menyembunyikan diri saat merasa mulas.
Penyebab anak susah BAB yang sering disepelekan
Beberapa faktor harian yang sering kali luput dari perhatian orang tua dapat memicu anak susah BAB:
- Sengaja menahan BAB: Anak sering menahan BAB karena asyik bermain, takut menggunakan toilet umum, atau trauma karena pernah mengalami BAB yang sakit sebelumnya. Kondisi ini memperparah sembelit pada anak.
- Kurang serat dan cairan: Pola makan yang rendah sayur, buah, dan biji-bijian, serta kurangnya konsumsi air putih membuat feses menjadi kering dan keras, sehingga anak susah BAB.
- Transisi makanan: Perubahan pola makan, seperti peralihan dari ASI eksklusif ke susu formula, atau saat anak mulai mengenal makanan pendamping ASI (MPASI).
- Kurang aktivitas fisik: Anak yang kurang bergerak atau terlalu sering menatap layar memiliki pergerakan usus yang lebih lambat.
- Kondisi medis tertentu: Meskipun jarang, sembelit pada anak bisa dipicu oleh kelainan anatomi saluran cerna sejak lahir, gangguan tiroid, atau efek samping obat tertentu.
Kapan harus ke dokter?
Dr. dr. Eva Jeumpa Soelaeman, Sp.A (K) menganjurkan untuk segera bawa anak ke dokter spesialis anak jika kondisi anak susah BAB berlangsung lebih dari dua minggu (kronis) atau jika sembelit pada anak disertai gejala bahaya berikut:
- Demam tinggi.
- Muntah-muntah.
- Berat badan anak turun atau tidak naik sesuai grafik pertumbuhan.
- Keluar darah yang banyak dari anus.
- Adanya benjolan atau luka robek yang jelas di sekitar anus.
- Anak tampak sangat lemas dan kesakitan.
Terapi obat dan tindakan untuk anak sembelit
Jika perubahan pola makan seperti memperbanyak air putih dan serat belum berhasil mengatasi anak susah BAB, dokter dapat memberikan penanganan medis berupa:
- Obat pencahar (laksatif): Dokter meresepkan obat pencahar yang aman untuk anak untuk melunakkan feses agar mudah keluar tanpa rasa sakit. Jangan memberikan obat pencahar bebas tanpa resep dokter saat anak susah BAB.
- Terapi enema : Pada kasus sembelit pada anak di mana feses sudah menyumbat dan mengeras di ujung rektum, dokter mungkin melakukan tindakan memasukkan cairan khusus melalui anus untuk merangsang pengeluaran kotoran.Orang tua jangan lakukan sendiri karena bisa menyebabkan ketergantungan, Anak hanya akan BAB kalau diberi obat enema. Jadi konsul ke dokter itu penting.
- Toilet training: Dokter akan memandu orang tua untuk melatih kebiasaan BAB anak secara teratur, misalnya meminta anak duduk di toilet selama 5-10 menit setelah makan untuk mencegah sembelit pada anak kambuh.
Konsultasi ahli gastroenterologi anak
Sembelit akan menyebabkan usus anak penuh kotoran, sehingga membuat perut anak terasa begah, penuh, kembung, dan sering kram. Akibat rasa tidak nyaman ini, nafsu makan anak biasanya akan menurun drastis, yang jika dibiarkan bisa memengaruhi asupan nutrisi pertumbuhan mereka.
Jika sembelit pada anak terjadi secara berulang atau tidak kunjung membaik, Anda dapat berkonsultasi langsung dengan ahlinya, Dr. dr. Eva Jeumpa Soelaeman, Sp.A (K) Konsultan Gastroentero Hepatologi Anak Eka Hospital MT Haryono Segera buat janji dengan dokter lewat appointment center di 1-500-129 dan WA center 0889-1500-129

