
Disleksia adalah salah satu gangguan belajar pada anak, yang biasanya terdeteksi saat anak berusia 5-12 tahun. Kondisi ini umumnya tidak memengaruhi kecerdasan anak, tapi dapat sangat mengganggu dalam proses belajarnya.
Dengan penanganan yang tepat, anak dapat mengikuti proses belajar-mengajar di keseharian, dan sekolahnya.
Apa itu disleksia pada anak?
Disleksia pada anak adalah gangguan belajar yang ditandai dengan sulitnya anak dalam memproses bahasa tertulis, seperti angka atau huruf. Hal ini membuat anak jadi kesulitan dalam membaca, menulis, dan mengeja.
Rangkaian huruf yang bagi orang tua mudah dibaca, dapat dilihat anak sebagai sesuatu yang acak. Ini terjadi karena otak anak dengan disleksia memproses bahasa tertulis dengan cara yang berbeda.
Dilihat dari kemampuan bacanya, terdapat 3 jenis disleksia, yaitu:
- Phonological dyslexia: kesulitan mengeja kata-kata baru
- Surface dyslexia: kesulitan mengenali sebuah kata utuh, terutama ketika ejaannya tidak sesuai dengan bunyinya
- Campuran: kombinasi dari keduanya
Gejala Disleksia
Disleksia biasanya dikenali pada saat anak mulai memasuki usia belajar membaca. Sebab, ia akan sangat kesulitan dalam merangkai kata, mengeja, dan membacanya.
Pada setiap usia, Anda mungkin saja menemukan tanda-tanda disleksia yang berbeda-beda, karena tergantung juga pada tahapan tumbuh kembangnya.
Tanda disleksia pada anak usia 3-5 tahun (prasekolah)
- Kesulitan mengenali huruf dan angka
- Kesulitan mengenali atau menyanyikan lagu anak-anak
- Kesulitan mengucapkan kata-kata yang memiliki pengucapan mirip, seperti buku dan duku
- Kesulitan mengulangi kata atau kalimat yang panjang
- Tidak memahami perbedaan huruf dan angka
- Kesulitan mengucapkan sebuah huruf atau kata
Tanda disleksia pada anak usia 5-7 tahun (usia sekolah)
- Kesulitan membaca dibandingkan anak seusianya
- Tampak berusaha menghafal kata dibandingkan membacanya dengan lantang
- Tidak dapat merangkai dan mengucapkan kata utuh dari kumpulan huruf, misal ia dapat mengeja m-e-j-a tapi tidak dapat mengucapkan ‘meja’ saat membaca kumpulan huruf itu
- Kesulitan mengingat huruf
- Kesulitan belajar mengenai urutan, seperti urutan hari, huruf, atau angka
- Membaca dengan sangat lambat dan sering membuat kesalahan
- Tulisan tangan yang buruk
- Mampu menjawab secara lisan dengan baik, tapi sangat kesulitan dalam menulis
- Kesulitan mengikuti instruksi atau rutinitas
- Tampak tidak disiplin dan pelupa
Gejala disleksia pada usia 7-13 tahun (praremaja dan remaja)
- Menghindari kegiatan membaca atau bahkan menolak membaca
- Sering salah pengucapan saat membaca dengan lantang
- Membaca secara lambat, terbata-bata, atau datar
- Lebih senang mendengar orang lain membaca
- Kesulitan menulis tulisan panjang
- Perlu membaca beberapa kali untuk memahami sebuah kata atau kalimat sederhana
- Merasa cemas saat harus pergi sekolah atau membuat PR
Penyebab disleksia pada anak
Disleksia pada anak sering kali terjadi karena ada bagian otak yang bekerja atau berkembang dengan cara yang berbeda. Bagian otak ini adalah bagian yang bertanggung jawab dalam memproses bahasa, seperti mengenali suara dan mencocokkannya dengan huruf atau kata.
Kondisi ini disebut juga dengan neurodevelopmental dyslexia.
Disleksia juga bisa terjadi ketika usia anak lebih dewasa, meski sebelumnya tidak memiliki masalah dan kesulitan dalam membaca. Kondisi ini disebut dengan acquired dyslexia.
Biasanya, ini dapat terjadi ketika seseorang mengalami cedera kepala atau kondisi yang memengaruhi otak, seperti kecelakaan atau stroke. Itu sebabnya, disleksia pada orang dewasa juga mungkin saja terjadi.
Selain itu, disleksia juga dapat terjadi karena adanya faktor genetik. Artinya, orang tua yang mengalami disleksia mungkin saja menurunkannya pada anak. Meski demikian, bukan berarti sang anak pasti mengalami disleksia.
Lahir prematur dan terpapar zat kimia berbahaya selama masa kehamilan juga bisa meningkatkan risiko disleksia pada anak.
Cara mendiagnosis disleksia
Disleksia biasanya didiagnosis saat anak masuk bangku SD atau ketika ia sudah diharapkan bisa membaca berdasarkan tahapan tumbuh kembangnya. Sebab, pada masa inilah kesulitannya dalam membaca akan jadi sangat menonjol.
Namun, diagnosis yang lebih awal akan sangat membantu anak dalam proses belajar membacanya nanti sehingga ia dapat memasuki bangku sekolah dengan lebih siap.
Anda bisa melihat tanda-tanda disleksia pada anak dan memeriksakannya ke dokter anak ataupun psikolog anak. Dokter anak dapat melakukan serangkaian tes, seperti tes pendengaran dan penglihatan untuk mencari tahu penyebab anak kesulitan membaca sekaligus menyingkirkan kemungkinan penyebab lain.
Beberapa tes lain yang juga umum dilakukan untuk mendiagnosis disleksia pada anak, yaitu:
- Mengucapkan kata-kata yang tidak familier
- Kemampuan berbahasa lisan
- Kelancaran dan pemahaman dalam membaca
- Mengeja
- Perbendaharaan kosakata
- Pengenalan kata
Penanganan disleksia
Disleksia bukanlah kondisi yang bisa disembuhkan. Akan tetapi, berbagai terapi dapat dilakukan untuk membantu anak dalam menemukan metode belajar yang lebih sesuai dengan dirinya.
Beberapa hal yang dapat dilakukan, di antaranya:
- Instruksi khusus, yaitu metode pengajaran yang menggabungkan penglihatan, pendengaran, dan perabaan untuk memperkuat keterampilan membaca dan mengeja.
- Dukungan sekolah, seperti waktu tambahan saat ujian, ujian lisan, atau penyesuaian lain.
- Alat pendukung, seperti audiobooks
- Konseling atau terapi dengan psikolog
Disleksia tidak memengaruhi kecerdasan anak. Jika didukung dengan terapi dan metode belajar yang tepat, anak yang mengalami disleksia tidak akan kalah dengan anak yang tidak memilikinya.
Apabila mencurigai adanya tanda-tanda disleksia pada anak, Anda bisa segera membawa anak ke dokter anak untuk mendapatkan diagnosis dini agar penanganannya lebih optimal. Dengan demikian, anak diharapkan dapat melalui tahapan belajarnya dengan lebih mudah.
Temui dokter spesialis anak terbaik untuk menjawab keraguan Anda di Eka Hospital. Hubungi Call Center Eka Hospital di nomor 1500129 atau WhatsApp di 08891500129 untuk informasi lebih lanjut dan membuat janji temu.

