.jpeg)
Kanker paru merupakan salah satu jenis kanker dengan angka kejadian dan kematian yang cukup tinggi di dunia, termasuk di Indonesia. Sayangnya masalah utama dari penanganan kanker paru adalah gejala yang sering kali tidak muncul pada stadium awal, sehingga banyak kasus baru terdeteksi saat sudah lanjut.
Padahal, semakin cepat kanker paru dikenali, semakin besar peluang penanganan berhasil. Mengenali tanda-tanda awal dan memahami faktor risikonya adalah langkah krusial untuk menyelamatkan nyawa.
Mengenali gejala kanker paru
Gejala kanker paru secara garis besar dapat dibagi menjadi dua kategori: gejala yang menyerang sistem pernapasan dan gejala yang memengaruhi kondisi tubuh secara umum (sistemik).
1. Gejala respirasi (pernapasan)
- Batuk berdarah (hemoptisis): Batuk yang mengeluarkan dahak bercampur darah, meski jumlahnya sedikit, harus segera diperiksakan.
- Nyeri dada: Rasa nyeri yang tajam atau tumpul di dada yang sering kali memburuk saat menarik napas dalam, batuk, atau tertawa.
- Sesak napas: Kesulitan bernapas yang muncul secara bertahap atau mendadak tanpa aktivitas berat yang jelas.
- Batuk kronis: Batuk yang tidak kunjung sembuh setelah lebih dari 2–8 minggu.
2. Gejala sistemik (seluruh tubuh)
- Penurunan berat badan drastis: Penurunan berat badan yang signifikan tanpa alasan yang jelas atau tanpa program diet.
- Kehilangan nafsu makan: Perasaan enggan makan yang berlangsung terus-menerus.
- Kelelahan ekstrem: Rasa lelah yang sangat hebat dan tidak hilang meski sudah beristirahat cukup.
Perbedaan kanker paru dengan tuberkulosis (TBC)
Di Indonesia, gejala kanker paru sering kali disalahartikan sebagai tuberkulosis (TBC) karena memiliki gejala yang mirip, seperti batuk lama dan sesak napas. Berikut perbedaannya secara umum:
- TBC: Biasanya disertai demam di sore/malam hari yang tidak terlalu tinggi dan keringat malam. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri dan dapat sembuh total dengan antibiotik khusus.
- Kanker paru: Gejala pernapasan cenderung menetap atau memburuk meski sudah diberi obat batuk atau antibiotik biasa. Penurunan berat badan pada kanker paru sering kali terjadi lebih cepat dibandingkan TBC.
Faktor risiko dan penyebab utama
Siapa saja yang paling berisiko? Berikut adalah beberapa faktor pemicu utama:
- Merokok: Ini adalah penyebab utama (sekitar 80-90% kasus). Risiko ini sangat besar pada perokok aktif, perokok pasif (menghirup asap secara langsung), hingga orang ketiga (third-hand smoker) yang terpapar residu asap rokok yang menempel di baju atau ruangan.
- Riwayat genetik: Seseorang yang memiliki anggota keluarga inti (orang tua atau saudara kandung) penderita kanker paru memiliki risiko lebih tinggi.
- Profil risiko tinggi: Laki-laki perokok, berusia di atas 40 tahun, dan memiliki riwayat keluarga kanker paru merupakan kelompok yang paling disarankan melakukan skrining rutin.
Cara mendiagnosis kanker paru
Untuk memastikan gejala yang Anda derita merupakan kanker atau bukan, dokter spesialis paru akan menyarankan beberapa langkah diagnosis:
- Rontgen dada: Langkah awal untuk melihat adanya massa atau kelainan pada jaringan paru.
- Low Dose CT Scan Thorax (LDCT): Teknologi pemeriksaan yang jauh lebih akurat dan detail dibandingkan rontgen biasa untuk mendeteksi benjolan kecil (nodul) di paru pada stadium yang sangat awal. Pemeriksaan ini sangat direkomendasikan untuk skrining perokok berat.
Konsultasi dengan dokter spesialis paru dan pernapasan
Jangan menunda pemeriksaan jika Anda merasakan gejala yang mencurigakan. Deteksi dini melalui prosedur intervensi yang tepat dapat memberikan harapan pemulihan yang jauh lebih baik. Untuk mendapatkan diagnosis akurat dan penanganan gawat darurat napas yang komprehensif, Anda dapat berkonsultasi dengan:
dr. Dicky Soehardiman, Sp.P(K) Dokter Spesialis Paru dan Pernapasan Konsultan Intervensi dan Gawat Darurat Napas Eka Hospital Bekasi Segera buat janji dengan dokter lewat appointment center di 1-500-129 dan WA center 0889-1500-129.

