
Istilah Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) yang sudah populer selama puluhan tahun kini resmi berganti nama menjadi Metabolic Reproductive Syndrome (MRS) atau di Indonesia disepakati sebagai PMOS (Penyakit Metabolik Ovarium Sindrom). Perubahan nama ini disepakati oleh para pakar kesehatan dunia untuk memperbaiki sistem diagnosis dan penanganan pasien.
Berikut adalah penjelasan medis mengenai alasan perubahan nama, kriteria diagnosis terbaru, dan tantangan yang dihadapi pasien.
Mengapa istilah PCOS diganti menjadi PMOS?
Alasan utama perubahan nama ini adalah tingginya angka underdiagnosis atau kasus yang tidak terdiagnosis. Selama ini, banyak dokter dan pasien terlalu fokus mencari keberadaan "kista" kecil pada indung telur melalui pemeriksaan USG.
Padahal, sekitar 70% pasien terlambat ditangani hanya karena mereka tidak memiliki kista saat diperiksa. Padahal, PCOS/PMOS sebenarnya bukan penyakit kista, melainkan sebuah gangguan sistem metabolisme dan hormon yang berdampak pada organ reproduksi. Kata polycystic (banyak kista) ini dianggap menyesatkan dan membuat diagnosis menjadi tidak akurat. Nama PMOS kini lebih menggambarkan kondisi aslinya, yaitu masalah metabolik pada ovarium.
Kriteria diagnosis lama vs tantangan baru
Perubahan nama ini membawa tantangan baru, terutama pada kriteria diagnostik yang digunakan dokter.
Pada kriteria diagnosis yang lama (Kriteria Rotterdam), seorang wanita dinyatakan positif PCOS jika memenuhi minimal 2 dari 3 tanda berikut:
- Gangguan menstruasi atau siklus haid tidak teratur atau jarang haid.
- Kadar hormon androgen (hormon pria) yang tinggi, ditandai dengan gejala klinis seperti tumbuh rambut berlebih di wajah/tubuh, jerawat parah, atau hasil tes darah.
- Gambaran indung telur polikistik (banyak kista kecil) saat diperiksa melalui USG.
Apa yang berubah pada kriteria PMOS? Pakar kini mengubah fokus utama diagnosis pada aspek metabolik dan hormonal, bukan lagi pada visual fisik ovarium di USG. Dokter akan lebih mendalami gejala resistensi insulin, obesitas perut, gangguan kolesterol, serta masalah ovulasi. Artinya, meskipun hasil USG rahim Anda bersih dari kista, Anda tetap bisa didiagnosis mengidap PMOS jika memiliki gangguan haid kronis dan masalah metabolisme tubuh.
Dampaknya dalam penanganan pasien
Perubahan ini membawa harapan baru bagi para wanita yang selama ini mengalami gejala PMOS namun tidak mendapat kejelasan diagnosis. Dengan parameter baru, pasien bisa mendapatkan penanganan lebih cepat untuk mencegah komplikasi jangka panjang, seperti:
- Infertilitas (kesulitan hamil).
- Diabetes melitus tipe 2.
- Penyakit jantung dan pembuluh darah.
- Gangguan kecemasan dan depresi.
Konsultasi spesialis kedokteran reproduksi
Dunia kedokteran terus berkembang dan memperbarui ilmunya demi keselamatan pasien. Jika Anda mengalami masalah menstruasi yang tidak teratur, berat badan yang sulit turun, atau sedang berjuang melawan masalah kesuburan, segeralah melakukan pemeriksaan hormon dan metabolisme secara menyeluruh.
Untuk mendapatkan diagnosis PMOS yang akurat serta program penanganan kesuburan yang tepat, Anda dapat berkonsultasi langsung dengan ahlinya:
dr. Agus Heriyanto, Sp.OG, Subsp. FER, MARS, MM Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan - Konsultan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi Eka Hospital BSD.
Jangan tunggu gejala memburuk, segera perbarui orientasi kesehatan reproduksi Anda bersama ahlinya.
Segera buat janji dengan dokter lewat appointment center di 1-500-129 dan WA center 0889-1500-129.

