Home>Better Health>Penyakit Dalam>Regurgitasi: Penyebab, Gejala, dan Penanganan

Better Health

Regurgitasi: Penyebab, Gejala, dan Penanganan

regurturasi

Regurgitasi adalah kondisi di mana makanan atau cairan yang sudah masuk ke lambung atau kerongkongan kembali ke mulut tanpa disertai rasa mual atau kontraksi perut yang kuat. Meskipun sering dianggap sebagai hal yang biasa, regurgitasi bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan yang lebih serius.

Berbeda dengan muntah, regurgitasi biasanya terjadi tanpa rasa mual dan tidak melibatkan kontraksi perut yang kuat. Kondisi ini bisa terjadi pada orang dewasa, anak-anak, dan bahkan bayi.

Penyebab regurgitasi

Regurgitasi dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik fisiologis (normal) maupun patologis (akibat penyakit). Beberapa penyebab umum meliputi:

1. Penyebab fisiologis

  • Refluks asam lambung (GERD): Asam lambung yang naik ke kerongkongan dapat menyebabkan regurgitasi.
  • Makan berlebihan: Makan dalam porsi besar dapat membuat lambung terlalu penuh, sehingga makanan mudah kembali ke kerongkongan.
  • Posisi tubuh setelah makan: Berbaring atau membungkuk setelah makan dapat memicu regurgitasi.

2. Penyebab patologis

  • Gangguan kerongkongan: Kondisi seperti akalasia (gangguan otot kerongkongan) atau esofagitis (radang kerongkongan) dapat menyebabkan regurgitasi.
  • Hernia hiatal: Bagian lambung yang menonjol ke rongga dada melalui diafragma dapat menyebabkan regurgitasi.
  • Gangguan lambung: Ulkus lambung atau infeksi lambung dapat memicu regurgitasi.
  • Gangguan neurologis: Kondisi seperti stroke atau penyakit Parkinson dapat memengaruhi kemampuan menelan dan menyebabkan regurgitasi.

3. Penyebab pada bayi

  • Refluks Gastroesofageal (GER): Bayi sering mengalami regurgitasi karena sistem pencernaan mereka yang belum matang.
  • Pemberian makan yang tidak tepat: Posisi yang salah saat menyusui atau memberikan susu botol dapat menyebabkan regurgitasi.

Gejala regurgitasi

Gejala regurgitasi bervariasi tergantung pada penyebabnya. Beberapa gejala yang umum meliputi:

  • Makanan atau cairan kembali ke mulut
  • Rasa asam atau pahit di mulut
  • Nyeri dada atau tenggorokan
  • Kesulitan menelan
  • Batuk atau suara serak

Diagnosis regurgitasi

Untuk mendiagnosis regurgitasi, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan, antara lain:

  • Dokter akan menanyakan gejala dan melakukan pemeriksaan fisik.
  • Endoskopi saluran cerna atas. Prosedur ini menggunakan tabung fleksibel dengan kamera untuk melihat kondisi kerongkongan dan lambung.
  • Manometri esofagus. Tes ini mengukur tekanan otot kerongkongan untuk mengevaluasi fungsi menelan.
  • Rontgen dengan barium. Pasien menelan cairan barium yang akan terlihat pada sinar-X, membantu dokter melihat struktur kerongkongan dan lambung.
  • pH Monitoring. Tes ini mengukur tingkat keasaman di kerongkongan untuk mendeteksi refluks asam.

Penanganan regurgitasi

Penanganan regurgitasi tergantung pada penyebabnya. Beberapa pilihan penanganan meliputi:

1. Perubahan gaya hidup

  • Makan dalam porsi kecil: Hindari makan dalam porsi besar untuk mengurangi tekanan pada lambung.
  • Hindari berbaring setelah makan: Tunggu setidaknya 2-3 jam setelah makan sebelum berbaring.
  • Hindari makanan pemicu refluks: Seperti makanan pedas, berlemak, asam, atau berkafein.

2. Obat-obatan

  • Antasida: Untuk menetralkan asam lambung.
  • Obat-obatan yang mengurangi produksi asam lambung seperti omeprazole.
  • Prokinetik: Obat yang membantu mempercepat pengosongan lambung.

3. Prosedur medis

  • Operasi: Jika regurgitasi disebabkan oleh hernia hiatal atau gangguan struktural lainnya, operasi mungkin diperlukan.
  • Terapi endoskopi: Prosedur non-bedah untuk mengatasi masalah kerongkongan atau lambung.

Cara mencegah regurgitasi

Ada beberapa cara yang bisa Anda gunakan untuk mencegah regurgitasi:

  • Makan dengan Perlahan: Kunyah makanan dengan baik dan hindari makan terburu-buru.
  • Hindari Makanan Pemicu: Seperti makanan asam, makanan pedas, cokelat, kopi, alkohol, dan makanan berlemak.
  • Jaga Berat Badan Ideal: Kelebihan berat badan dapat meningkatkan tekanan pada lambung dan memicu regurgitasi.
  • Hindari Rokok: Merokok dapat melemahkan otot kerongkongan dan meningkatkan risiko refluks.

Kapan harus ke dokter?

Anda harus berkonsultasi dengan dokter jika:

  • Regurgitasi terjadi secara terus-menerus atau semakin parah.
  • Disertai dengan nyeri dada, penurunan berat badan, atau kesulitan menelan.
  • Terdapat darah dalam muntahan atau tinja.

Regurgitasi adalah kondisi yang umum dan sering kali tidak berbahaya, terutama jika terjadi sesekali. Namun, jika regurgitasi terjadi terus-menerus atau disertai gejala lain, penting untuk berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat. Dengan perubahan gaya hidup dan pengobatan yang sesuai, regurgitasi dapat dikelola dengan baik. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam kami untuk mendapatkan penanganan tepat. Untuk mendapatkan informasi, segera buat janji dengan dokter lewat appointment center di 1-500-129 dan WA center 0889-1500-129.

Bagikan

  • healthline.com, https://www.healthline.com/health/gerd/regurgitation#takeaway

    Diakses pada 28 February 2026

  • medicalnewstoday.com, https://www.medicalnewstoday.com/articles/regurgitation#when-is-it-serious

    Diakses pada 28 February 2026

EKA HOSPITAL

APPOINTMENT CENTER

menu1-500-129

Jam Operasional Layanan Telepon 06:00 - 22.00 WIB

Layanan Booking Mandiri 24 jam via Website

Copyright © 2026 Eka Hospital - All Rights Reserved