
Dalam istilah medis, jantung berdebar kencang disebut dengan palpitasi jantung. Sepintas, kondisi ini mirip dengan aritmia. Suatu kondisi yang menyebabkan jantung berdetak cepat, lambat, atau tidak beraturan.
Meski mirip, aritmia dan palpitasi jantung memiliki perbedaan.
Perbedaan aritmia dan palpitasi jantung
Palpitasi jantung adalah kondisi ketika jantung berdebar cepat. Kondisi ini membuat dada Anda terasa deg-degan dengan cepat. Beberapa orang juga mendeskripsikan ini sebagai detak jantung yang tiba-tiba berhenti sejenak.
Sementara itu, aritmia adalah penyakit jantung yang menyebabkan jantung Anda berdetak sangat kencang, sangat lambat, ataupun tidak teratur.
Orang yang mengalami aritmia cenderung mengalami palpitasi jantung. Akan tetapi, orang yang mengalami palpitasi jantung tidak selalu memiliki aritmia.
Untuk memperjelas, berikut ini beberapa perbedaan aritmia dan palpitasi jantung:
1. Perbedaan gejala
Gejala palpitasi jantung biasanya hanya melibatkan soal detak jantung, seperti:
- Jantung berdetak sangat kencang
- Detak jantung sangat lambat
- Jantung terasa berhenti berdetak sejenak kemudian berdetak kembali
Palpitasi jantung dapat terasa tak hanya di dada, tapi juga di leher ataupun dekat tenggorokan.
Di sisi lain, aritmia sendiri bisa memiliki semua gejala tersebut. Akan tetapi, aritmia biasanya juga disertai gejala lain sebagai tanda bahwa kondisi ini lebih serius dari sekadar jantung berdebar.
Gejala aritmia, antara lain:
- Mengalami palpitasi jantung
- Nyeri dada
- Sesak napas
- Kelelahan
- Pusing
- Keringat dingin
- Pingsan atau nyaris pingsan
2. Penyebab aritmia dan palpitasi jantung
Sering kali, penyebab palpitasi jantung bukanlah kondisi yang harus dikhawatirkan walaupun kadang bisa jadi tanda aritmia atau penyakit jantung lainnya.
Namun, hal lain yang lebih sering menyebabkan palpitasi jantung atau jantung berdebar adalah:
- Aktivitas fisik atau berolahraga
- Tekanan emosional, seperti stres, mengalami serangan panik atau kecemasan
- Terlalu banyak konsumsi kafein
- Obat-obatan tertentu yang punya efek samping membuat jantung berdebar
- Alkohol
- Demam
- Gangguan hormon tiroid
- Fluktuasi hormon, seperti akibat menstruasi, kehamilan, dan menopause
Sementara itu, aritmia disebabkan oleh terganggunya aktivitas listrik di jantung yang memerintahkan jantung untuk berdetak. Gangguan sinyal listrik inilah yang akhirnya membuat irama jantung jadi tidak teratur.
Beberapa hal yang bisa menyebabkan gangguan sinyal listrik di jantung dan menyebabkan aritmia, antara lain:
- Mengalami serangan jantung atau pernah mengalami serangan jantung
- Memiliki penyakit arteri koroner (sumbatan di arteri jantung)
- Memiliki penyakit jantung, seperti penyakit jantung bawaan atau gagal jantung
- Memiliki kelainan struktur jantung, seperti kardiomiopati dan penyakit katup jantung
- Hipertensi
- Diabetes
- Gangguan kelenjar tiroid
- Ketidakseimbangan elektrolit
- Konsumsi alkohol berlebihan
- Merokok
- Konsumsi kafein berlebihan
3. Diagnosis
Hal lain yang membedakan aritmia dan palpitasi jantung adalah metode diagnosis.
Untuk mengetahui apakah Anda mengalami palpitasi jantung cenderung lebih sederhana dibandingkan aritmia. Untuk mengetahui apakah jantung Anda berdebar lebih cepat atau lambat, Anda mungkin hanya membutuhkan stopwatch dan menghitung detak jantung secara manual atau menggunakan smartwatch.
Detak jantung orang dewasa normal berkisar antara 60-100 detak per menit saat beristirahat.
Sementara itu, untuk memastikan bahwa palpitasi jantung yang Anda alami memang disebabkan oleh aritmia, dokter memerlukan serangkaian pemeriksaan medis. Tidak cukup hanya dengan mengukur detak jantung.
Beberapa pemeriksaan yang dilakukan untuk mendiagnosis aritmia, antara lain:
- EKG
- Tes treadmill jantung
- Holter monitoring selama 24 jam atau lebih
- USG jantung
- Studi elektrofisiologi
- Tes meja miring (tilt table test)
- Angiografi koroner
4. Pengobatan aritmia dan palpitasi jantung
Perbedaan selanjutnya dari palpitasi jantung dan aritmia dapat dilihat dari pengobatan yang diberikan. Kebanyakan kasus palpitasi jantung atau jantung berdebar bukanlah masalah serius.
Seringnya, palpitasi jantung yang bukan disebabkan oleh penyakit jantung tidak membutuhkan penanganan khusus dan akan membaik dengan sendirinya. Biasanya dokter menyarankan untuk menghindari pemicu yang menyebabkan palpitasi seperti konsumsi kafein, merokok, dan konsumsi alkohol.
Akan tetapi, aritmia membutuhkan pengobatan yang lebih serius mengingat kondisi ini bisa menyebabkan komplikasi yang mungkin mengancam nyawa.
Pengobatan aritmia beragam mulai dari pemberian obat-obatan untuk mengendalikan detak jantung hingga intervensi medis, seperti ablasi jantung, kardioversi, pemasangan alat pacu jantung, atau operasi yang bertujuan mengembalikan detak jantung normal kembali.
5. Komplikasi
Perbedaan mencolok selanjutnya antara aritmia dan palpitasi jantung dapat dilihat dari komplikasi yang ditimbulkan. Palpitasi jantung jarang menimbulkan komplikasi. Terlebih jika kejadiannya tidak berulang dan bukan disebabkan oleh masalah jantung.
Akan tetapi, palpitasi yang terjadi karena masalah pada jantung, seperti aritmia, bisa menyebabkan beberapa komplikasi jika tidak ditangani secara tepat, seperti:
- Pingsan berulang
- Henti jantung mendadak
- Gagal jantung
- Stroke
Kapan palpitasi jantung perlu diperiksakan ke dokter?
Meski palpitasi jantung seringnya tidak berbahaya dan dapat sembuh dengan sendirinya, Anda perlu memeriksakan diri ke dokter bila mengalami gejala, seperti:
- Palpitasi jantung berulang
- Pingsan
- Pusing
- Keringat berlebihan
- Sesak napas
- Nyeri dada
Aritmia bisa menyebabkan pompa jantung menjadi tidak maksimal sehingga aliran darah ke seluruh tubuh jadi terganggu. Terganggunya aliran darah bisa menyebabkan segala gejala di atas. Anda bisa berkunjung ke MYCardia Eka Hospital, pusat jantung dan aritmia yang dilengkapi oleh dokter spesialis jantung terbaik untuk mendapatkan rencana pengobatan terbaik tentang kondisi Anda. Hubungi Call Center kami di 1500129 atau layanan WhatsApp kami di 08891500129 untuk informasi lebih lanjut.

