
Pernahkah Anda memperhatikan bahwa anak sering tidur dengan mulut terbuka?
Banyak orang tua menganggap kebiasaan ini sebagai hal yang lumrah atau tanda anak tertidur sangat nyenyak. Padahal, tidur dengan mulut terbuka bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan. Yuk, simak penjelasan lengkapnya dari dr. Revina Tranggana, Sp.A, Dokter Spesialis Anak dari Eka Hospital Pluit.
Mengapa anak tidur dengan mulut terbuka?
dr. Revina Tranggana menjelaskan bahwa secara alami, manusia bernapas melalui hidung, baik saat terbangun maupun tidur. Itu sebabnya hidung memiliki sistem alami untuk menyaring debu, melembapkan udara, dan menjaga aliran oksigen tetap optimal.
Ketika anak tidur dengan mulut terbuka, biasanya ini terjadi karena jalur pernapasan di hidung tersumbat atau menyempit. Beberapa pemicu utamanya meliputi:
- Pembesaran amandel atau adenoid: Kelenjar di tenggorokan atau bagian belakang hidung yang membengkak dapat menyumbat saluran napas atas.
- Alergi atau rinitis: Hidung tersumbat akibat alergi debu, suhu dingin, atau cuaca.
- Kelainan struktur hidung: Sekat hidung yang bengkok sehingga menyulitkan aliran udara.
- Infeksi saluran napas berulang: Batuk pilek yang tak kunjung sembuh secara tuntas.
Tanda-tanda anak bernapas lewat mulut
Selain mulut yang tampak menganga saat tidur, menurut dr. Revina Tranggana terdapat beberapa gejala lain yang perlu orang tua waspadai:
- Pola tidur terganggu: Anak sering gelisah, mengorok, mengompol, atau terbangun di tengah malam karena merasa sesak atau haus.
- Mulut terasa kering saat bangun tidur: Anak sering mengeluh haus atau bibir tampak pecah-pecah di pagi hari.
- Penurunan konsentrasi belajar: Karena kualitas tidurnya buruk, anak menjadi mudah mengantuk, rewel, atau mendapat laporan dari sekolah bahwa ia kurang fokus saat belajar.
Apakah buruk jika dibiarkan?
Dalam penjelasannya, dr. Revina Tranggana mengatakan bernapas melalui mulut dalam jangka panjang dapat memengaruhi tumbuh kembang anak secara keseluruhan:
- Gangguan tumbuh kembang & hormon pertumbuhan: Hormon pertumbuhan diproduksi secara optimal saat anak berada dalam fase tidur nyenyak. Tidur yang sering terganggu dapat menghambat proses tersebut.
- Perubahan struktur wajah: Kebiasaan bernapas lewat mulut pada masa pertumbuhan dapat memengaruhi pertumbuhan rahang serta menyebabkan susunan gigi menjadi tidak rata.
- Daya tahan tubuh menurun: Udara yang masuk lewat mulut tidak tersaring dengan baik, sehingga kuman dan alergen lebih mudah masuk ke saluran pernapasan bawah.
Kapan harus berkonsultasi ke dokter?
Jika Anda sering melihat anak tidur dengan mulut terbuka, mengorok, atau menunjukkan gejala penurunan konsentrasi, jangan menunda untuk memeriksakannya ke dokter. Evaluasi sejak dini dapat membantu dokter menemukan penyebab penyumbatan saluran napas sehingga penanganan yang tepat dapat segera diberikan.
Untuk pemeriksaan tumbuh kembang dan evaluasi gangguan tidur pada anak secara komplit, Anda dapat berkonsultasi langsung dengan ahlinya dr. Revina Tranggana, Sp.A, Dokter Spesialis Anak di Eka Hospital Pluit. Tonton juga video penjelasannya di Instagram Eka Hospital Pluit.
Segera buat janji konsultasi dengan dokter melalui Appointment Center di 1-500-129 atau WhatsApp Center di 0889-1500-129.

