
Penyakit Radang Usus Kronis atau Inflammatory Bowel Disease (IBD) adalah kondisi medis jangka panjang yang ditandai dengan adanya peradangan progresif pada dinding saluran pencernaan. Sering kali, masyarakat keliru menyamakan IBD dengan Irritable Bowel Syndrome (IBS). Padahal, IBS hanyalah gangguan fungsi pencernaan tanpa luka, sedangkan IBD adalah penyakit serius yang menyebabkan kerusakan hingga perdarahan pada usus.
Jika Anda sering mengalami gangguan pencernaan yang tidak kunjung sembuh dengan obat maag atau obat diare biasa, Anda perlu waspada terhadap IBD.
Simak penjelasan penyakit radang usus kronis berikut oleh Prof. Dr. dr. Murdani Abdullah, Sp.PD-KGEH, FINASIM, FACG, FASGE Konsultan Gastroenterologi Hepatologi Eka Hospital MT Haryono.
Jenis radang usus
Secara medis, Radang Usus Kronis (IBD) dikelompokkan menjadi dua jenis utama berdasarkan lokasi dan kedalaman peradangannya:
- Kolitis ulseratif (ulcerative colitis): Peradangan kronis ini hanya terjadi pada lapisan usus besar dan rektum. Ciri khasnya adalah munculnya luka terbuka yang merata pada dinding saluran pencernaan menyebabkan perdarahan terus-menerus.
- Penyakit Crohn (Crohn's disease): Peradangan ini menyerang bagian mana pun dari saluran pencernaan, mulai dari mulut hingga anus. Selain itu, peradangan pada Penyakit Crohn dapat menembus seluruh ketebalan dinding usus secara acak.
Gejala radang usus (IBD)
Peradangan yang merusak dinding usus akan memicu gejala-gejala menetap yang mengganggu aktivitas harian Anda. Segera periksakan diri jika Anda mengalami gejala utama berikut:
- Diare kronis: buang air besar cair secara terus-menerus selama lebih dari dua minggu, sering kali disertai darah segar, lendir, atau nanah.
- Nyeri perut yang intens: Kram perut di area bawah atau sekitar pusar, yang biasanya terasa sakit setelah makan.
- Penurunan berat badan drastis: Berat badan turun secara drastis tanpa diet, karena usus yang meradang tidak mampu menyerap nutrisi makanan.
- Mudah lelah: Rasa lelah terus menerus meski sudah beristirahat, hal ini disebabkan oleh tubuh yang kehabisan energi untuk melawan radang atau akibat anemia.
- Demam ringan dan sering berkeringat: Muncul sebagai respon sistem imun terhadap infeksi dan peradangan aktif di dalam tubuh.
Penyebab dan faktor risiko
Hingga saat ini, penyebab pasti IBD belum diketahui. Namun, para ahli memastikan bahwa kondisi ini melibatkan gangguan sistem kekebalan tubuh (autoimun). Sistem imun pasien mengalami gangguan, bukannya melawan virus atau bakteri, mereka justru menyerang sel-sel sehat di saluran pencernaan sendiri secara agresif.
Beberapa faktor penting yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengidap IBD meliputi:
- Riwayat genetik: Risiko meningkat drastis jika Anda memiliki anggota keluarga inti (orang tua atau saudara kandung) yang mengidap penyakit serupa.
- Faktor usia: Mayoritas kasus IBD pertama kali terdiagnosis pada usia muda, yaitu antara 15 hingga 30 tahun.
- Gaya hidup buruk: Kebiasaan merokok, mengonsumsi makanan tinggi lemak jenuh secara berlebihan, serta tingginya tingkat stres dapat memicu atau memperparah serangan radang.
- Penggunaan obat antinyeri: Mengonsumsi obat pereda nyeri golongan NSAID (seperti ibuprofen atau diklofenak) terlalu sering dapat mengikis lapisan pelindung usus dan memperparah peradangan.
Komplikasi IBD
Menunda pengobatan IBD dapat menyebabkan komplikasi fatal yang mengancam nyawa, di antaranya:
- Penyumbatan usus Peradangan kronis yang sembuh akan meninggalkan jaringan parut. Jaringan parut ini lambat laun menebal dan menyempitkan saluran usus sehingga makanan tidak dapat lewat.
- Fistula: Terbentuknya saluran abnormal menembus dinding usus yang menghubungkan satu organ ke organ lain, seperti usus ke kulit atau usus ke kandung kemih.
- Perforasi usus: Dinding usus yang terus terkikis oleh luka lama-kelamaan dapat robek atau bocor, menyebabkan feses masuk ke rongga perut dan memicu infeksi berat .
- Kanker usus besar: Pasien Kolitis Ulseratif jangka panjang memiliki risiko yang jauh lebih tinggi untuk terkena kanker kolon, sehingga memerlukan skrining berkala secara rutin.
Pengobatan dan kontrol gejala peradangan usus
Meskipun IBD merupakan penyakit jangka panjang yang belum bisa disembuhkan total, penanganan medis dapat menekan peradangan secara signifikan hingga pasien mencapai fase remisi (fase bebas gejala). Langkah pengobatan meliputi:
- Terapi obat-obatan: Dokter akan memberikan kombinasi obat antiradang, kortikosteroid untuk meredakan radang akut, imunosupresan, atau terapi biologis mutakhir guna mengontrol aktivitas imun yang berlebih.
- Pengaturan pola makan: Mengatur pola makan secara ketat bersama ahli gizi. Saat fase radang akut, pasien wajib menghindari makanan pedas, kafein, produk susu, serta makanan berserat tinggi yang dapat mengiritasi luka usus.
- Tindakan bedah: Operasi menjadi pilihan terakhir jika obat-obatan sudah tidak mempan atau telah terjadi komplikasi serius seperti kebocoran dan penyumbatan usus.
Konsultasi ahli gastroenterologi
Jangan abaikan gejala diare berdarah atau kram perut yang berulang. Penanganan IBD sejak dini menggunakan prosedur diagnostik modern seperti kolonoskopi sangat krusial untuk menyelamatkan jaringan usus Anda dari kerusakan permanen.
Untuk mendapatkan diagnosis yang akurat serta skema pengobatan terpadu, Anda dapat berkonsultasi langsung dengan ahlinya, Prof. Dr. dr. Murdani Abdullah, Sp.PD-KGEH, FINASIM, FACG, FASGE Konsultan Gastroenterologi Hepatologi Eka Hospital MT Haryono
Segera buat janji dengan dokter lewat appointment center di 1-500-129 dan WA center 0889-1500-129.

