
“Apakah penyakit radang usus ini bisa sembuh total?” atau “Apakah saya harus ketergantungan obat seumur hidup?” adalah dua pertanyaan yang sering muncul pada pasien yang mengidap Inflammatory Bowel Disease (IBD).
Sebagai penyakit autoimun kronis yang menyerang saluran pencernaan, IBD memang belum memiliki metode pengobatan yang dapat menyembuhkannya secara total. Namun, hal ini bukan berarti pasien tidak bisa hidup normal dan bebas gejala.
Berikut adalah penjelasan medis mengenai cara kerja penanganan IBD dari Prof. Dr. dr. Murdani Abdullah, Sp.PD, KGEH, FINASIM, FACG, FASGE Konsultan Gastroentero Hepatologi di IBD Center Eka Hospital MT Haryono.
Memahami konsep remisi dan flare
Menurut Prof. Murdani, fokus utama penanganan IBD bukanlah untuk sembuh, melainkan mencapai dan mempertahankan fase remisi, serta mengendalikan fase flare atau kambuh.
- Fase flare (kambuh): Ini adalah kondisi di mana peradangan di dalam usus sedang aktif secara agresif. Pada fase ini, pasien akan merasakan gejala-gejala berat seperti diare berdarah, kram perut hebat, demam, hingga penurunan berat badan.
- Fase remisi (bebas gejala): Ini adalah tujuan utama pengobatan. Pada fase remisi, peradangan di usus telah berhasil dikendalikan. Jaringan usus yang tadinya luka mulai sembuh, sehingga semua gejala berkurang. Pasien dalam fase remisi dapat beraktivitas, bekerja, dan makan dengan normal seperti orang sehat pada umumnya.
Jadi, tujuan pengobatan IBD bukanlah menghilangkan penyakitnya secara permanen, melainkan meredam aktivitas imun agar pasien bisa berada di fase remisi selama mungkin dan mencegahnya kambuh lagi.
Metode penanganan IBD
Untuk mengubah fase flare menjadi fase remisi yang stabil, tim medis akan menerapkan kombinasi tiga pilar penanganan berikut:
1. Terapi obat-obatan
Obat-obatan merupakan garda terdepan untuk mengontrol IBD. Jenis obat yang diberikan disesuaikan dengan tingkat keparahan peradangan:
- Antiinflamasi: Untuk meredakan radang pada kasus IBD ringan hingga sedang.
- Kortikosteroid: Obat minum atau suntik dosis kuat yang digunakan dalam jangka pendek untuk meredakan serangan flare akut secara cepat.
- Imunosupresan: Obat untuk menekan kerja sistem kekebalan tubuh yang overaktif agar berhenti menyerang dinding usus.
- Terapi biologis: Terapi modern berbasis protein yang secara spesifik menargetkan dan melumpuhkan protein pemicu radang di dalam tubuh. Terapi ini sangat efektif untuk mempertahankan fase remisi jangka panjang pada kasus IBD sedang hingga berat.
2. Menjalankan pola hidup sehat
Obat-obatan tidak akan bekerja optimal tanpa adanya perubahan pola hidup dari pasien. Beberapa langkah penting meliputi:
- Pengaturan pola makan: Menghindari makanan pemicu iritasi usus seperti makanan pedas, terlalu berlemak, kafein, alkohol, dan makanan berserat tinggi saat fase flare sedang aktif.
- Mengelola stres: Stres psikologis terbukti secara klinis dapat memicu pelepasan zat kimia tubuh yang memperburuk peradangan usus.
- Berhenti merokok: Khusus pada Penyakit Crohn (salah satu jenis IBD), merokok dapat memperparah keparahan penyakit dan mempercepat terjadinya kekambuhan.
3. Tindakan endoskopi
Selain sebagai alat diagnosis awal, tim medis menggunakan tindakan endoskopi untuk penanganan berkala. Melalui endoskopi, dokter dapat:
- Memantau tingkat kesembuhan usus: Menilai secara langsung apakah obat-obatan telah berhasil menyembuhkan luka di dalam dinding usus (mucosal healing) untuk memastikan pasien benar-benar mencapai fase remisi.
- Melakukan intervensi medis minimal invasif: Melebarkan bagian usus yang menyempit akibat peradangan kronis menggunakan balon khusus tanpa perlu operasi besar.
- Skrining kanker usus: Mengambil sampel jaringan (biopsi) secara berkala untuk mendeteksi dini sel kanker akibat peradangan jangka panjang.
4. Terapi Pembedahan (Operasi)
Tindakan bedah atau operasi ditujukan bagi kasus IBD yang sudah tidak mempan terhadap terapi obat-obatan, atau ketika telah terjadi komplikasi yang mengancam nyawa. Pada kasus kolitis ulseratif, operasi pengangkatan seluruh usus besar terkadang dilakukan. Sementara pada Penyakit Crohn, operasi dilakukan untuk mengangkat bagian usus yang mengalami penyumbatan, kebocoran, atau fistula.
Apakah harus minum obat seumur hidup?
Prof. Murdani menjelaskan, sebagian besar pasien IBD tetap memerlukan terapi pemeliharaan jangka panjang, meskipun mereka sudah berada di fase remisi dan merasa sehat.
Beliau menambahkan, berhenti mengkonsumsi obat secara mandiri tanpa pengawasan dokter adalah penyebab utama terjadinya flare yang lebih berat. Namun, dosis dan jenis obat dapat disesuaikan atau dikurangi oleh dokter spesialis seiring dengan membaiknya kondisi dinding usus Anda berdasarkan evaluasi berkala.
Konsultasi spesialis di IBD Center Eka Hospital MT Haryono
Penanganan IBD membutuhkan pendekatan yang sangat personal, disiplin, dan penanganan langsung dari ahlinya agar Anda bisa mencapai fase remisi panjang tanpa komplikasi.
Bagi Anda yang membutuhkan diagnosis akurat, second opinion, atau prosedur pengobatan IBD modern yang komprehensif, Anda dapat berkonsultasi langsung di pusat penanganan radang usus terpadu bersama:
Prof. Dr. dr. Murdani Abdullah, Sp.PD-KGEH, FINASIM, FACG, FASGE Konsultan Gastroenterologi Hepatologi di IBD Center Eka Hospital MT Haryono.
Segera buat janji dengan dokter lewat appointment center di 1-500-129 dan WA center 0889-1500-129.

