.jpeg)
Salah satu anggapan yang banyak beredar seputar cara mengurus bayi baru lahir adalah bedong bisa menyebabkan kaki bayi menjadi X atau O. Namun, apakah ini benar? Yuk, simak jawaban selengkapnya dari dokter spesialis anak Eka Hospital, dr. Revina Tranggana, Sp. A.
Bedong Tidak Menyebabkan Kaki Bayi X atau O
Membedong adalah suatu aktivitas “membungkus” bayi dengan kain yang tipis. Biasanya, ini dilakukan untuk menjaga bayi tetap tenang.
Walau beberapa orang tua memilih membedong bayi, ada pula orang tua yang memutuskan untuk tidak membedong bayi karena khawatir kakinya akan mengalami perubahan bentuk.
Faktanya, membedong bayi tidak menyebabkan kaki bayi berbentuk X atau O. Kaki anak yang berbentuk X atau O biasanya terjadi karena genetik, bukan kebiasaan membedong bayi.
Penyebab Kaki Bayi Berbentuk X atau O
Kaki X atau O pada bayi tidak disebabkan oleh membedong bayi, tapi faktor genetik. Gangguan pertumbuhan tulang (hip dysplasia) dan Kekurangan nutrisi, khususnya vitamin D, juga bisa menyebabkan kaki bayi berbentuk huruf X atau O.
Meski demikian, orang tua tidak perlu khawatir jika kaki bayi baru lahir terlihat seperti huruf O atau X karena ini adalah kondisi yang normal. Sebab, seiring tumbuh kembangnya, bentuk kakinya akan tampak normal, terutama ketika ia mulai belajar berjalan.
Kaki O pada bayi termasuk normal jika muncul pada usia kurang dari 2 tahun dan berangsur membaik begitu ia menginjak usia 3 tahun. Sementara itu, kaki X juga termasuk normal jika muncul di usia 2-4 tahun dan akan hilang dengan sendirinya pada usia 7-8 tahun.
Tujuan Membedong Bayi
Sebetulnya, bayi tidak harus selalu dibedong. Jika bayi Anda tidak nyaman, tidak membedong bayi tidak mengakibatkan masalah kesehatan pada anak.
Tujuan utama membedong bayi adalah untuk menjaga anak tetap tenang, terutama saat ia tidur. Penelitian membuktikan anak yang dibedong dapat tidur lebih nyenyak.
Selain itu, membedong bayi bisa membantu bayi tidur terlentang lebih lama. Tidur terlentang membantu menurunkan risiko kematian mendadak pada bayi (SIDS).
Meski demikian, membedong bayi terlalu kencang bisa menyebabkan sejumlah risiko kesehatan. Membedong bayi terlalu kencang menyebabkan kaki bayi bisa jadi terlalu lurus berlebihan dan meningkatkan risiko masalah pinggul.
Orang tua sebaiknya berhenti membedong bayi ketika anak mulai berguling, ketika usia 2 bulan ke atas, sebab dapat meningkatkan risiko SIDS.
Cara Membedong Bayi yang Benar
Bedong bayi tidak menyebabkan kaki bayi X atau O. Akan tetapi, bedong terlalu kencang juga bisa meningkatkan risiko kesehatan pada bayi.
Cara membedong bayi yang benar, yaitu:
- Bentangkan selimut bayi tipis dan lipat sisi atas ke arah bawah.
- Letakkan bayi terlentang di atas selimut dengan kepala pada sisi yang dilipat.
- Anda bisa meletakkan lengan bayi di sisi tubuh, menyilangkannya, atau bahkan membiarkannya di luar selimut. Lakukan apa yang membuat bayi Anda nyaman.
- Lipat sisi kiri selimut ke bagian atas tubuh bayi dan selipkan di belakang punggung, melewati lengan kanan.
- Lipat sisi bawah selimut ke atas kaki bayi, pinggul dan lutut bayi harus sedikit ditekuk dan menghadap ke luar. Jangan melipat selimut terlalu ketat.
- Lipat sisi kanan selimut ke arah kiri dan selipkan di bawah punggung sehingga hanya leher dan kepala yang terlihat.
- Pastikan bayi tidak dibedong terlalu ketat. Sebagai patokan, Anda harus bisa menyelipkan tangan di antara kain bedong dan dada bayi. Ini membantunya bernapas lebih mudah.
Apabila Anda ragu apakah harus membedong bayi atau tidak, konsultasikanlah dengan dokter spesialis anak. Anda juga bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis anak Eka Hospital PIK, dr. Revina Tranggana, Sp. A, untuk mendapatkan saran medis terbaik.
Hubungi Call Center Eka Hospital di nomor 1500129 atau WhatsApp di 08891500129 untuk membuat janji temu dan memeriksa jadwal dokter.

