Home>Better Health>Ortopedi>Skoliosis: Ciri-Ciri pada Anak, Remaja, dan Dewasa serta Cara Mendeteksinya

Better Health

Skoliosis: Ciri-Ciri pada Anak, Remaja, dan Dewasa serta Cara Mendeteksinya

ciri skoliosis

Skoliosis adalah kondisi kelainan bentuk tulang belakang yang melengkung secara tidak normal ke arah samping, membentuk huruf "C" atau "S". Penyakit ini dapat terjadi pada segala usia, namun paling umum muncul di masa pertumbuhan, yaitu saat anak-anak dan remaja. Skoliosis memiliki ciri-ciri yang berbeda pada tiap kategori usia, yaitu anak-anak, remaja, dan dewasa. Deteksi dini sangat penting agar kelainan ini dapat ditangani dengan efektif sebelum semakin parah. Berikut ini adalah ciri-ciri skoliosis berdasarkan kelompok usia dan cara mendeteksinya.

Ciri-ciri skoliosis berdasarkan kategori usia

1. Skoliosis pada anak anak

Pada anak-anak, skoliosis mungkin tidak selalu mudah terlihat, terutama jika kelengkungannya masih ringan. Ciri-ciri skoliosis pada anak-anak yang perlu diperhatikan meliputi:

  • Kepala yang tidak sejajar dengan bahu: Kepala mungkin tampak condong ke satu sisi.
  • Salah satu bahu atau pinggul lebih tinggi: Perbedaan tinggi pada bahu atau pinggul dapat terlihat saat anak berdiri.
  • Tulang belikat yang menonjol: Salah satu tulang belikat mungkin lebih menonjol dibanding sisi lainnya.
  • Ketidakseimbangan tubuh: Anak-anak dengan skoliosis sering terlihat miring atau tidak simetris saat berjalan.
  • Pola napas yang tidak normal: Pada skoliosis parah, tulang belakang yang melengkung bisa menekan paru-paru, memengaruhi pola napas.

Anak-anak umumnya jarang mengeluhkan nyeri punggung, sehingga gejala skoliosis pada usia ini sering diabaikan. Orang tua sebaiknya lebih waspada dan melakukan pemeriksaan rutin jika ada tanda-tanda fisik tersebut.

2. Skoliosis pada remaja

Remaja merupakan kelompok usia yang paling rentan terhadap skoliosis idiopatik (skoliosis tanpa penyebab yang jelas). Ciri-ciri skoliosis pada remaja sering kali lebih mudah terlihat, terutama saat masa pubertas di mana pertumbuhan tubuh sangat pesat. Tanda-tanda skoliosis pada remaja antara lain:

  • Postur tubuh yang tidak simetris: Salah satu bahu atau pinggul lebih tinggi, atau tubuh terlihat miring ke satu sisi.
  • Lengkungan pada punggung: Punggung tampak melengkung ke samping saat dilihat dari belakang.
  • Ketidakrataan tulang belikat: Salah satu tulang belikat terlihat lebih menonjol atau lebih tinggi.
  • Ketidakseimbangan panjang kaki: Salah satu kaki mungkin terlihat lebih panjang atau lebih pendek, menyebabkan cara berjalan yang timpang.
  • Nyeri punggung: Meski tidak selalu terjadi, beberapa remaja dengan skoliosis mungkin mengeluhkan nyeri punggung ringan hingga sedang.

Pada remaja, skoliosis yang tidak ditangani bisa memperburuk kelengkungan tulang belakang, terutama selama fase pertumbuhan. Deteksi dini sangat penting agar skoliosis dapat segera dikoreksi.

3. Skoliosis pada dewasa

Pada orang dewasa, skoliosis bisa merupakan kelanjutan dari skoliosis yang berkembang sejak masa remaja atau muncul akibat degenerasi tulang belakang (skoliosis degeneratif) yang terjadi seiring penuaan. Ciri-ciri skoliosis pada orang dewasa meliputi:

  • Nyeri punggung kronis: Orang dewasa dengan skoliosis sering mengalami nyeri punggung berkepanjangan akibat ketegangan otot.
  • Kelelahan otot: Beban tubuh yang tidak seimbang menyebabkan otot bekerja lebih keras, mengakibatkan kelelahan otot.
  • Keterbatasan gerak: Gerakan tubuh menjadi terbatas karena lengkungan tulang belakang yang ekstrem.
  • Ketidakseimbangan tubuh: Postur tubuh sering kali tidak simetris, dan salah satu bahu atau pinggul lebih tinggi.
  • Gangguan saraf: Pada skoliosis yang parah, lengkungan tulang belakang dapat menekan saraf dan menyebabkan kesemutan, mati rasa, atau kelemahan pada kaki.

Skoliosis pada dewasa biasanya lebih sulit untuk diobati dibandingkan pada anak-anak atau remaja karena tulang sudah berhenti tumbuh, dan mungkin juga memerlukan tindakan bedah jika sudah parah.

Cara mendeteksi skoliosis

Deteksi skoliosis bisa dilakukan melalui pemeriksaan fisik sederhana hingga pemeriksaan lanjutan menggunakan teknologi pencitraan. Berikut adalah beberapa cara mendeteksi skoliosis:

1. Pemeriksaan visual

Pemeriksaan ini sering dilakukan oleh dokter atau ahli kesehatan. Pasien diminta membungkuk ke depan dengan tangan menggantung. Pemeriksa akan mengamati bentuk tulang belakang, tinggi bahu, dan apakah ada ketidakseimbangan pada punggung. Jika terlihat ada lengkungan atau tonjolan pada satu sisi, kemungkinan besar pasien mengalami skoliosis.

2. Pemeriksaan panjang kaki dan pinggul

Ketidakseimbangan panjang kaki dan tinggi pinggul sering kali menjadi tanda awal skoliosis. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara mengukur dan membandingkan panjang kedua kaki serta tinggi pinggul untuk melihat apakah ada perbedaan signifikan.

3. Pemeriksaan tulang belikat

Pada skoliosis, salah satu tulang belikat biasanya tampak lebih menonjol atau lebih tinggi dibandingkan dengan sisi lainnya. Pemeriksaan ini dapat dilakukan secara sederhana dengan meminta pasien berdiri tegak, dan pemeriksa akan melihat apakah ada perbedaan tinggi atau posisi tulang belikat.

4. Rontgen

Jika tanda-tanda skoliosis terlihat, dokter mungkin akan meminta pemeriksaan rontgen tulang belakang. Rontgen digunakan untuk mengukur sudut kelengkungan (sudut Cobb) dan mengetahui tingkat keparahan skoliosis. Pemeriksaan rontgen penting untuk menentukan langkah penanganan yang paling sesuai.

5. MRI atau CT Scan

Pada kasus yang lebih parah atau skoliosis dewasa, MRI atau CT scan mungkin diperlukan untuk melihat kondisi saraf, jaringan lunak, dan struktur tulang belakang secara lebih rinci, terutama jika ada gejala nyeri atau gangguan saraf.

Skoliosis merupakan kelainan yang dapat memengaruhi berbagai usia dengan ciri-ciri dan gejala yang berbeda-beda. Pada anak-anak dan remaja, kelengkungan tulang belakang mungkin terlihat sebagai ketidakseimbangan tubuh atau postur, sedangkan pada dewasa sering disertai dengan nyeri dan keterbatasan gerak. Deteksi dini sangat penting agar skoliosis dapat ditangani dengan tepat sebelum mencapai kondisi yang lebih serius. Jika Anda mencurigai adanya tanda-tanda skoliosis pada diri sendiri atau anak, konsultasikan dengan dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut dan penanganan yang optimal.

6. Bone scan

Tes ini dilakukan menggunakan cairan radioaktif yang disuntikkan ke dalam pembuluh darah. Cairan tersebut nantinya akan terkonsentrasi di area dengan sirkulasi yang meningkat dan menandakan adanya kelainan pada tulang belakang.

Gatam Institute Eka Hospital

Gatam Institute merupakan layanan ortopedi di Eka Hospital yang menyediakan perawatan komprehensif untuk berbagai masalah tulang, sendi, dan otot, mulai dari kelainan bentuk tulang belakang seperti skoliosis, nyeri sendi, patah tulang, hingga cedera olahraga.

Didukung oleh dokter ortopedi yang berpengalaman dan fasilitas modern, termasuk teknologi pencitraan canggih dan ruang operasi khusus, Eka Hospital mampu menangani kasus-kasus ortopedi secara efektif, baik melalui terapi konservatif maupun tindakan bedah. Selain itu, layanan rehabilitasi yang tersedia membantu pasien memulihkan fungsi tubuh dan mobilitas, memastikan mereka dapat kembali beraktivitas dengan optimal. Jangan ragu juga untuk berkonsultasi bersama dokter spesialis ortopedi konsultan tulang belakang Eka Hospital. Untuk mendapatkan informasi, segera buat janji dengan dokter lewat appointment center di 1-500-129 dan WA center 0889-1500-129.

Bagikan

  • nhs.uk, https://www.nhs.uk/conditions/scoliosis/

    Diakses pada 10 February 2026

  • mayoclinic.org, https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/scoliosis/symptoms-causes/syc-20350716

    Diakses pada 10 February 2026

  • niams.nih.gov, https://www.niams.nih.gov/health-topics/scoliosis/diagnosis-treatment-and-steps-to-take

    Diakses pada 10 February 2026

EKA HOSPITAL

APPOINTMENT CENTER

menu1-500-129

Jam Operasional Layanan Telepon 06:00 - 22.00 WIB

Layanan Booking Mandiri 24 jam via Website

Copyright © 2026 Eka Hospital - All Rights Reserved