Home>Better Health>Anak>Cara Tepat Mengajarkan Anak Puasa Sesuai dengan Panduan IDAI

Better Health

Cara Tepat Mengajarkan Anak Puasa Sesuai dengan Panduan IDAI

puasa anak

Tentu lebih menyenangkan rasanya jika pada bulan Ramadan orang tua bisa turut serta mengajarkan anak-anak menjalankan ibadah puasa demi menanamkan nilai-nilai spiritual dan disiplin.

Namun, di satu sisi, anak-anak masih dalam masa tumbuh kembang. Asupan nutrisi yang cukup dan tepat sasaran tentu berguna untuk mengoptimalkan tumbuh kembangnya. Lantas, bagaimana ya, cara mengajarkan anak puasa yang tepat? Simak selengkapnya berikut ini.

Panduan Mengajarkan Anak Berpuasa menurut IDAI

Mengajarkan puasa pada anak bukan hanya soal menanamkan nila-nilai agama. Namun, jika dilakukan dengan benar, puasa juga dapat membawa manfaat kesehatan untuk anak.

Berpuasa bisa membantu sel tubuh anak menggunakan energi dengan lebih efisien sampai mencegah penyakit serius dan memperkuat sistem imun. Bahkan, puasa juga bisa membantu perkembangan kognitif dan emosionalnya, dalam hal berempati, mengendalikan diri, dan memahami batas kemampuan.

Menurut IDAI, supaya tidak hanya bermanfaat secara spiritual, orang tua dapat mengikuti panduan puasa pada anak agar bermanfaat pula bagi kesehatannya:

1. Menilai Kesiapan Anak

Sebelum meminta si Kecil untuk mulai berpuasa, sebaiknya orang tua dapat melihat dulu kesiapan anak. Kesiapan ini dapat dilihat dari seberapa mampu ia menahan lapar tanpa mengganggu aktivitasnya. Normalnya, secara medis, anak yang berusia 7 tahun dapat dikatakan sudah siap untuk berpuasa.

Pada saat berpuasa, tubuh akan mulai memecah glikogen (cadangan glukosa) untuk dijadikan sumber energi. Jika puasa dilanjutkan lebih lama dan glikogen habis, tubuh akan mulai menggunakan lemak.

Umumnya, anak yang berusia di bawah 7 tahun masih memiliki cadangan glikogen yang sedikit. Itu sebabnya, usia yang dikatakan aman untuk mulai mengajarkan anak berpuasa adalah umur 7 tahun.

Pada usia 10 tahun, anak-anak biasanya sudah memiliki jumlah cadangan gula yang sama seperti orang dewasa. Jadi, mereka sudah bisa berpuasa lebih lama.

Meski demikian, perlu diingat bahwa setiap anak memiliki kecepatan tumbuh kembang yang berbeda-beda. Beberapa anak mungkin dapat mulai puasa lebih dulu meski belum 7 tahun, beberapa lainnya baru dapat belajar puasa di atas 7 tahun.

2. Mulai Puasa secara Bertahap

Untuk dapat benar-benar yakin dalam menilai kesiapan si Kecil berpuasa, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyarankan untuk mulai mengajarkan puasa pada anak secara bertahap.

Cara paling populer untuk mengajarkan puasa pada anak-anak adalah puasa setengah hari. Artinya, anak berpuasa dari sahur hingga pukul 12, atau ketika azan salat Zuhur berkumandang.

Selain puasa setengah hari, beberapa cara lain yang bisa orang tua lakukan untuk mengajarkan anak puasa secara bertahap, yaitu:

  • Berpuasa sehari penuh tapi tetap memberikan minum (air putih)
  • Berpuasa penuh selang-seling, seperti Senin, Rabu, dan Jumat

Jika anak mulai sanggup mengikuti ritmenya. Orang tua boleh perlahan-lahan mengajarkannya puasa sehari penuh dari waktu sahur hingga Magrib. Biasanya, anak usia 10 tahun sudah dapat mengikuti puasa seharian penuh.

3. Perhatikan Asupan Nutrisi Saat Sahur dan Berbuka

Asupan makanan untuk anak saat berpuasa secara otomatis akan berkurang. Untuk itu, orang tua perlu mengoptimalkannya di makanan saat sahur dan berbuka puasa.

Pastikan asupan makanan saat sahur dan berbuka mencakup karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, serat, vitamin, dan mineral.

Saat sahur, orang tua bisa memberikan karbohidrat seperti ubi, nasi merah, atau oatmeal agar ia kenyang lebih lama. Jangan lupa untuk lengkapi dengan protein dan serat untuk menjaga kenyang lebih lama.

Sementara itu, pada saat berbuka puasa, orang tua bisa memberikan makanan manis dengan indeks glikemik tinggi, seperti buah, madu, atau susu. Hindari memberikan makanan olahan tinggi gula.

Walaupun sama-sama tinggi gula, makanan olahan tinggi gula tidak mengandung zat gizi lainnya sehingga tidak direkomendasikan. Utamakan makanan berbuka yang berasal dari makanan asli, seperti buah dan sayuran.

Setelah berbuka, baru berikan makan malam lengkap yang mengandung karbohidrat kompleks, protein, dan serat.

4. Penuhi Kebutuhan Cairan Anak Saat Berpuasa

Dibandingkan orang dewasa, anak-anak lebih rentan mengalami dehidrasi. Untuk itu, orang tua perlu memenuhi kebutuhan cairannya di waktu berbuka hingga sahur nanti.

Baik puasa ataupun tidak, kebutuhan cairan anak dan dewasa tetap sama, yaitu 8 gelas per hari atau setara dengan 1,5 liter.

Aturan minum saat puasa untuk anak dan orang dewasa pada prinsipnya juga sama, yaitu menggunakan metode 2-4-2. Artinya, minum 2 gelas air saat berbuka, 4 gelas air di sepanjang malam sebelum tidur, dan 2 gelas saat sahur.

Selain air putih, kebutuhan cairan anak juga bisa didapatkan dari buah-buahan atau makanan berkuah.

5. Pastikan Anak Cukup Tidur

Tidur cukup dapat membantu menjaga stamina si Kecil saat ia berpuasa. Pastikan anak mendapatkan tidur sekitar 7-8 jam setiap harinya selama bulan puasa.

Artinya, mintalah ia tidur lebih cepat saat hendak ikut sahur. Sebisa mungkin, biarkan anak sahur mendekati waktu azan Subuh. Selain ia mendapat kesempatan tidur sedikit lebih lama, makanan juga bisa bertahan lebih lama di dalam tubuh anak.

Tidur siang selama 20-30 menit juga membantu menjaga stamina anak saat berpuasa agar tidak mudah lemas. Hindari tidur siang yang terlalu sore karena dapat mengganggu jadwal tidur malamnya.

Apakah Anak yang GERD Boleh Berpuasa?

Salah satu kondisi kesehatan yang cukup umum muncul di kala puasa adalah masalah lambung, seperti GERD.

Anak yang memiliki GERD perlu mendapatkan perhatian khusus ketika orang tua hendak mengajarkan puasa kepada mereka.

Menurut dr. Eva Jeumpa Soelaeman, Sp.A (K), dokter spesialis anak konsultan gastroenterologi Eka Hospital MT Haryono menyebutkan, anak yang kondisi GERD-nya akut dan masih membutuhkan pengobatan 3 kali sehari sebaiknya tidak ikut berpuasa.

Ini karena lambung masih membutuhkan asupan makanan secara konsisten untuk mencegah lonjakan asam lambung dan jadwal minum obat yang harus dipatuhi agar peradangan pada saluran cerna cepat pulih.

Jika kondisi GERD sudah lebih stabil dan pengobatan telah berkurang frekuensinya jadi 2 kali sehari, kemungkinan anak sudah siap kembali untuk berpuasa. Namun, tetap konsultasikan pada dokter anak Anda, termasuk jadwal minum obat yang disesuaikan dengan jadwal sahur dan berbuka.

Kondisi yang Tidak Dianjurkan untuk Berpuasa bagi Anak

Berhubung anak baru mulai belajar berpuasa, tubuhnya mungkin akan mengalami sejumlah adaptasi. Salah satu risiko kesehatan yang mungkin muncul ketika anak berpuasa adalah

Orang tua perlu peka terhadap beberapa tanda anak belum siap berpuasa atau perlu membatalkan puasanya, seperti:

  • Anak menjadi sangat lemas dan tidak aktif
  • Pucat
  • Bibir kering dan sangat jarang buang air kecil
  • Sakit perut hebat (GERD kambuh)
  • Keringat dingin
  • Tangan dan kaki dingin
  • Pingsan

Anak dengan kondisi metabolisme tertentu sebaiknya juga berkonsultasi ke dokter sebelum mulai berpuasa. Melatih anak berpuasa, terlebih melihatnya berhasil menjalankannya tentu akan menjadi kebahagiaan tersendiri untuk orang tua maupun sang anak. Namun, pastikan kesehatan menjadi prioritas utama. Sebab, dengan kondisi yang sehat, Anda dan keluarga juga dapat menjalankan ibadah secara optimal tanpa gangguan.

Apabila anak memiliki kondisi kesehatan tertentu, seperti GERD, konsultasikanlah ke dokter untuk mengetahui apakah aman untuk mulai mengajarkan anak berpuasa. Anda bisa berkonsultasi ke dr. Eva Jeumpa Soelaeman, Sp.A (K), dokter spesialis anak konsultan gastroenterologi Eka Hospital MT Haryono untuk mendapatkan anjuran medis terbaik.  Hubungi Call Center Eka Hospital di nomor 1500129 atau WhatsApp di 08891500129 untuk membuat janji temu.

Bagikan

  • idai.or.id, https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/puasa-pada-anak-sehat-bertahap-dan-sesuai-usia

    Diakses pada 13 March 2026

  • ayosehat.kemkes.go.id, https://ayosehat.kemkes.go.id/cegah-dehidrasi-saat-puasa-dengan-8-gelas-perhari

    Diakses pada 13 March 2026

  • webmd.com, https://www.webmd.com/parenting/kids-naps

    Diakses pada 13 March 2026

  • parents.com, https://www.parents.com/what-to-know-about-ramadan-in-schools-8607734

    Diakses pada 13 March 2026

EKA HOSPITAL

APPOINTMENT CENTER

menu1-500-129

Jam Operasional Layanan Telepon 06:00 - 22.00 WIB

Layanan Booking Mandiri 24 jam via Website

Copyright © 2026 Eka Hospital - All Rights Reserved