
Sudah rutin berolahraga, menjaga pola makan, hingga mencoba berbagai metode diet, tetapi berat badan tak kunjung turun? Kondisi ini cukup sering dialami dan bukan berarti usaha yang dilakukan sia-sia lho.
Faktanya, penurunan berat badan dipengaruhi oleh banyak faktor sehingga tidak cukup hanya mengandalkan diet atau olahraga saja.
Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan, berbagai metode diet pun semakin populer dan banyak dijadikan pilihan untuk mencapai berat badan ideal. Namun, bagi seseorang yang mengalami obesitas, mengikuti tren diet saja belum tentu efektif. Obesitas merupakan kondisi yang kompleks dan memerlukan penanganan yang lebih dari sekadar membatasi asupan makanan.
Faktor penyebab obesitas dapat berbeda pada setiap orang, sehingga strategi penanganannya pun tidak bisa disamakan. Tidak sedikit orang mengalami kegagalan diet karena metode yang dipilih tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh atau kondisi medis yang mendasarinya.
Lalu, apa saja kesalahan diet yang sering dilakukan sehingga berat badan sulit turun?
8 Hal yang Paling Sering Jadi Penyebab Diet Gagal
1. Kurang Konsumsi Protein
Protein merupakan nutrisi yang paling penting untuk menurunkan berat badan. Bahkan, dengan mengkonsumsi protein dalam jumlah yang cukup dapat membantu menurunkan berat badan efektif sekaligus mengurangi risiko penyakit jantung.
Hal ini terjadi karena protein dapat membantu Anda merasa kenyang lebih lama dan membantu menjaga laju metabolisme dan melindungi massa otot selama proses penurunan berat badan.
2. Kurang Minum Air
Mencukupi kebutuhan cairan harian dapat menjadi salah satu langkah yang mendukung program penurunan berat badan. Air putih tidak mengandung kalori. Sehingga, minum air putih sebelum makan pada sebagian orang juga dapat membantu meningkatkan rasa kenyang sehingga porsi makan lebih terkontrol.
Sebaliknya, batasi konsumsi minuman manis karena kandungan gula dan kalorinya yang tinggi dapat meningkatkan berat badan jika dikonsumsi berlebihan.
3. Terlalu Lama Tunda Waktu Makan
Menunda waktu makan terlalu lama dapat membuat Anda merasa sangat lapar sehingga lebih berisiko makan dalam porsi berlebihan pada waktu makan berikutnya. Selain itu, pola makan yang tidak teratur juga dapat menyulitkan Anda mengontrol asupan kalori harian. Untuk membantu menjaga pola makan, usahakan makan secara teratur dengan porsi yang sesuai dan pilih makanan bergizi seimbang.
4. Kurang waktu tidur
Kurang waktu tidur mengganggu hormon metabolik yang dapat meningkatkan risiko resistensi insulin, gangguan metabolisme, peningkatan lemak visceral. Selain itu juga dapat mengganggu hormon yang mengatur nafsu makan sehingga meningkatkan rasa lapar dan keinginan mengkonsumsi makanan tinggi kalori. Oleh karena itu, pastikan Anda mendapatkan waktu tidur yang cukup sebagai bagian dari gaya hidup sehat.
5. Ketidakseimbagan Hormon
Penurunan berat badan tidak hanya dipengaruhi oleh pola makan dan olahraga, tetapi juga oleh keseimbangan hormon. Gangguan keseimbangan hormon, seperti hormon tiroid atau hormon stres (kortisol), dapat mempengaruhi metabolisme dan membuat penurunan berat badan menjadi lebih sulit.
6. Belum Mencapai Defisit Kalori
Agar berat badan turun, jumlah kalori yang dibakar atau keluar harus lebih banyak daripada kalori yang dikonsumsi. Walaupun sudah mengurangi atau mengukur jumlah kebutuhan dasar kalori tubuh masing-masing, namun perlu diseimbangkan pembakaran kalori dengan olahraga. Sehingga akan terjadi defisit kalori yang diharapkan.
7. Olahraga Terlalu Ringan atau Terlalu Berat
Pada dasarnya, olahraga merupakan bagian penting dalam program penurunan berat badan. Selain jenis olahraga, tetapi intensitas dan durasinya juga perlu diperhatikan. Olahraga yang terlalu ringan mungkin belum memberikan hasil yang optimal, sedangkan olahraga yang berlebihan dapat menyebabkan kelelahan, meningkatkan risiko cedera, dan sulit dipertahankan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, pilih jenis, intensitas, dan durasi olahraga yang sesuai dengan kondisi tubuh agar hasilnya lebih optimal dan berkelanjutan.
8. Mengonsumsi Alkohol
Selain makanan, minuman beralkohol juga dapat menjadi sumber tinggi kalori yang sering tidak disadari. Selain itu, mengonsumsi alkohol dapat meningkatkan faktor risiko terjadinya perlemakan hati dan meningkat kadar trigliserida.
Terapi Obesitas
Obesitas adalah penyakit kronis yang memiliki berbagai pilihan terapi, bukan sekadar soal makan berlebihan. Apalagi semakin berkembangnya teknologi khususnya di dunia kesehatan, banyak terapi yang beragam guna menekan angka obesitas yang semakin tinggi tiap tahunnya.
GIP/GLP-1
Dalam beberapa tahun terakhir, terapi GIP/GLP-1 menjadi salah satu pilihan medis yang banyak digunakan untuk membantu mengatasi obesitas. Terapi ini bekerja dengan memperlambat pengosongan lambung sehingga membantu mengurangi rasa lapar, meningkatkan rasa kenyang lebih lama, serta membantu mengontrol kadar gula darah.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa terapi GIP/GLP-1 dapat membantu menurunkan berat badan secara signifikan, bahkan rata-rata sekitar 5–18% dari berat badan awal, tergantung pada jenis terapi dan kondisi masing-masing individu.
Namun, ada beberapa poin yang harus diperhatikan. GIP/GLP-1 bukanlah solusi instan untuk menurunkan berat badan secara signifikan, hal itu harus didasari dengan pola hidup sehat, olahraga dengan intensitas yang sesuai, waktu tidur yang cukup, serta pendampingan secara personal dari dokter endokrin dan dokter gizi untuk hasil yang aman dan maksimal.
Dengan pendekatan yang menyeluruh, terapi GIP/GLP-1 tidak hanya membantu menurunkan berat badan, tetapi juga dapat memberikan manfaat lain, seperti memperbaiki keseimbangan metabolik, meningkatkan kemampuan beraktivitas, serta menurunkan risiko berbagai penyakit yang berkaitan dengan obesitas, seperti diabetes tipe 2 dan penyakit jantung.
Konsultasi dengan dokter endokrin dan metabolik serta dokter gizi
Setiap individu memiliki kondisi yang berbeda-beda dalam menangani kondisi kesehatan khususnya diet dari obesitas. Maka dari itu, pentingnya pendekatan personal yang disesuaikan dengan kondisi Anda untuk mendukung program diet agar lebih maksimal.
Berhasil atau gagalnya diet bukan diukur dari angka timbagan saja, tetapi juga dari peningkatan kesehatan secara menyeluruh. Program penurunan berat badan yang baik seharusnya membantu tubuh menjadi lebih sehat, bukan justru menimbulkan gangguan kesehatan atau membuat kondisi tubuh menurun.
Oleh karena itu, kontrol rutin dan konsultasi dengan dokter spesialis sangat penting agar program penurunan berat badan dapat berjalan secara aman, efektif, dan sesuai dengan kondisi kesehatan Anda. Sobat Sehat dapat membuat janji temu dengan dokter melalui Call Center 1500-129 atau WhatsApp Center 0889-1500-129 untuk mendapatkan penanganan yang tepat sesuai kebutuhan.

