.jpeg)
Beberapa waktu belakangan sempat viral kasus rahim copot. Disebutkan bahwa kasus ini terjadi ketika seorang dokter jaga menerima bungkusan plastik berisi organ rahim milik seorang perempuan yang baru saja melahirkan di dukun beranak (paraji).
Sebenarnya, apa benar rahim bisa copot? Simak penjelasan lengkap dari dr. Lydia Sutandar, Sp.OG, seorang dokter spesialis kebidanan dan kandungan Eka Hospital PIK berikut ini.
Apa Itu Rahim Copot?
Sebelum membahas bisa tidaknya rahim benar-benar copot, kita perlu tahu dulu apa yang dimaksud dengan rahim copot.
Dalam kasus viral yang beredar, rahim copot adalah kondisi ketika rahim yang seharusnya menempel pada area panggul, menjadi copot seluruhnya dan keluar dari tubuh seseorang.
Artinya, dalam kasus tersebut, jaringan penyangga rahim telah terputus seluruhnya sehingga posisi rahim atau uterus dapat “keluar” dari tempat seharusnya.
Dalam dunia medis, posisi rahim yang tidak pada tempat seharusnya juga bisa berarti inversio rahim, yakni sebuah kondisi ketika rahim terbalik, sehingga bagian dalam rahim menjadi di luar.
Benarkah Rahim Bisa Copot?
Merujuk dari istilah medis dan kasus yang sudah terjadi, rahim mungkin saja copot, walau secara kejadian, prevalensinya terhitung cukup jarang terjadi.
Baik rahim copot sepenuhnya ataupun inversio rahim, keduanya sama-sama dapat terjadi sering kali karena ada tarikan yang kuat. Artinya, rahim copot umumnya bukan suatu kondisi yang dapat terjadi begitu saja.
Bagaimana Rahim Bisa Copot?
Rahim copot total atau inversio rahim adalah salah satu komplikasi melahirkan yang jarang terjadi dan membutuhkan penanganan medis dengan segera karena membahayakan nyawa.
Umumnya, kondisi ini dapat terjadi karena ada tarikan yang kuat pada rahim, terutama saat hendak melahirkan plasenta.
Pada proses melahirkan, bayi yang sudah lahir biasanya masih terhubung dengan tali pusat, tali pusat ini masih tersambung dengan ari-ari atau plasenta yang dapat menempel di rahim.
Normalnya, plasenta akan lepas dengan sendirinya setelah beberapa saat bayi dilahirkan tanpa perlu ditarik. Prosedur yang tidak tepat, seperti menarik paksa plasenta sebelum waktunya, bisa menyebabkan rahim berada dalam posisi terbalik, sehingga terjadilah inversio.
Dalam beberapa kasus langka di mana tarikan kuat menyebabkan rahim copot sepenuhnya dan keluar dari tubuh, kondisi ini mungkin saja terjadi akibat adanya perubahan hormon pada tubuh ibu menjelang persalinan.
Menjelang persalinan, tubuh ibu akan mengeluarkan hormon relaksin yang dapat membuat otot dan ligamen di otot panggul menjadi lebih kendur. Kondisi inilah yang diduga bisa jadi salah satu penyebab rahim dapat copot sepenuhnya pada kasus yang viral.
Bagaimana Cara Mengatasi Rahim Copot?
Rahim copot adalah suatu kondisi gawat darurat medis yang membutuhkan penanganan segera.
Untuk kasus inversio rahim, cara mengatasinya adalah dengan mengembalikan posisi rahim seperti semula. Artinya, rahim yang terbalik akan dibalik kembali sehingga bagian dinding kembali berada di dalam.
Untuk melakukannya, beberapa prosedur yang dapat dilakukan, seperti:
- Membalikkan posisi rahim secara manual
- Operasi (laparotomi)
Laparotomi umumnya dilakukan jika cara manual tidak bisa dilakukan atau Anda mengalami perdarahan hebat.
Selain itu, bedah terbuka juga mungkin dilakukan jika rahim copot menyebabkan rahim sepenuhnya terlepas. Dalam kondisi ini, dokter perlu berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan organ ataupun mencegah perdarahan terus berlanjut.
Rahim yang copot berpotensi memutus pembuluh darah besar sehingga perdarahan hebat sangat mungkin terjadi.
Dokter mungkin akan berusaha mempertahankan jaringan sehat sebisa mungkin dengan menjahit jaringan yang rusak. Namun, ada risiko bahwa rahim tidak bisa kembali disambung.
Mencegah Rahim Copot
Umumnya praktik rahim copot dapat terjadi akibat tarikan yang kuat pada rahim. Memilih tenaga kesehatan yang tidak sesuai kemampuannya bisa meningkatkan risiko Anda mengalami rahim copot.
Kondisi ini juga tetap dapat terjadi meski ditangani oleh tenaga medis ahli, sekalipun probabilitasnya sangat rendah. Ini karena inversio rahim adalah salah satu dari banyak komplikasi yang memang dapat terjadi selama proses persalinan.
Risiko inversio rahim dapat meningkat jika:
- Tali pusat pendek
- Proses persalinan cepat atau berkepanjangan
- Menggunakan obat untuk merelaksasi rahim
- Melahirkan pertama kali
- Retensi plasenta (plasenta tidak lahir dalam 30 menit setelah bayi lahir)
- Preeklampsia berat
- Plasenta akreta
Maka itu, penting bagi Anda untuk memilih tenaga kesehatan tepercaya dan berpengalaman sesuai bidangnya untuk meminimalisir risiko komplikasi saat melahirkan. Jaringan Eka Hospital didukung oleh para dokter yang berpengalaman di bidangnya. Salah satu yang bisa Anda percaya terkait masalah kehamilan dan melahirkan adalah dr. Lydia Sutandar, Sp.OG. Hubungi Call Center Eka Hospital di nomor 1500129 atau WhatsApp di 08891500129 untuk membuat janji temu.

