
Kondisi bayi baru lahir yang tampak kuning sering kali dianggap hal biasa yang dapat sembuh sendiri atau cukup dijemur di bawah matahari pagi. Padahal, dalam dunia medis, kondisi bayi kuning atau jaundice yang tidak ditangani secara cepat dan tepat berisiko fatal hingga memicu kerusakan otak permanen.
Kenali batas aman serta tanda bahaya jaundice untuk melindungi tumbuh kembang buah hati lewat penjelasan dari dr. Charles, MSc, Sp.A, Dokter Spesialis Anak di Eka Hospital Depok.
Mengenal jaundice (bayi kuning)
dr. Charles menjelaskan, jaundice adalah kondisi ketika kulit dan bagian putih mata bayi tampak kekuningan akibat penumpukan bilirubin di dalam darah. Bilirubin sendiri adalah pigmen kuning dari proses pemecahan sel darah merah yang sudah tua.
Pada bayi baru lahir, kata dr. Charles, organ hati belum berkembang sempurna sehingga belum mampu mengolah dan membuang bilirubin secara efektif melalui urine atau kotoran.
Lebih lanjut dr. Charles mengatakan, secara umum, jaundice terbagi menjadi dua jenis:
- Kuning fisiologis (normal): Muncul pada hari ke-2 atau ke-3 setelah lahir dan membaik dalam 1–2 minggu.
- Kuning patologis (bahaya): Muncul dalam 24 jam pertama setelah lahir, berlangsung lebih dari 2 minggu, atau kadar bilirubinnya meningkat sangat cepat melampaui batas aman.
Ciri-ciri jaundice yang perlu diwaspadai
Pengamatan warna kulit saja sering kali tidak cukup untuk mengukur kadar bilirubin. Orang tua wajib mewaspadai beberapa gejala berikut:
- Warna kuning menyebar cepat dari wajah, dada, perut, hingga lengan dan kaki.
- Bagian putih mata dan bagian dalam mulut tampak sangat kuning atau jingga.
- Bayi tampak sangat lemas, layu, dan sulit dibangunkan untuk menyusu.
- Tangisan bayi terdengar tidak nyaring, melengking, atau bernada tinggi.
- Bayi menolak menyusu.
- Tinja berwarna pucat seperti dempul dan urine berwarna cokelat gelap.
Pengaruh bayi kuning terhadap kerusakan otak permanen (Kernicterus)
Bilirubin bersifat racun bagi sel-sel saraf. Jika kadarnya di dalam darah melonjak drastis, bilirubin dapat menembus dinding pertahanan otak. Kondisi toksik awal pada otak ini disebut Acute Bilirubin Encephalopathy (ABE).
dr. Charles mengatakan jika kondisi ABE tidak segera mendapat penanganan medis, kerusakan saraf akan berlanjut menjadi kernicterus, kerusakan otak permanen yang berpotensi menyebabkan:
- Gangguan pendengaran hingga ketulian permanen.
- Kelumpuhan otak (cerebral palsy) yang mengganggu kontrol gerak dan postur tubuh.
- Gangguan perkembangan motorik dan intelektual.
- Kerusakan pada saraf mata .
Apa yang harus dilakukan saat anak mengalami kulit kuning?
Jika kulit atau mata bayi tampak kuning, segera lakukan langkah-langkah berikut:
- Evaluasi dengan tekanan lembut: Tekan dahi atau hidung bayi secara perlahan di bawah pencahayaan yang terang. Jika area tersebut tetap berwarna kuning saat jari diangkat, segera konsultasikan ke dokter.
- Tingkatkan frekuensi menyusui: Berikan ASI atau formula sesering mungkin (8–12 kali sehari) untuk membantu mengeluarkan bilirubin melalui kotoran.
- Hindari hanya mengandalkan jemur matahari: Sinar matahari pagi hanya membantu pemecahan bilirubin ringan di kulit, tetapi tidak cukup untuk mengatasi kadar bilirubin yang tinggi.
- Pemeriksaan laboratorium & fototerapi medis: Bayi dengan kadar bilirubin tinggi membutuhkan terapi sinar (fototerapi) khusus di rumah sakit untuk mengubah struktur molekul bilirubin agar mudah dikeluarkan oleh tubuh.
Konsultasi Spesialis Anak di Eka Hospital Depok
Penanganan bayi kuning memerlukan diagnosis cepat dan pemantauan kadar bilirubin yang presisi. Menunda evaluasi medis dapat meningkatkan risiko komplikasi saraf pada masa depan buah hati Anda.
Jika bayi Anda menunjukkan tanda-tanda kuning, sulit menyusu, atau tampak lemas, segera berkonsultasi dengan ahlinya, dr. Charles, MSc, Sp.A, Dokter Spesialis Anak di Eka Hospital Depok.
Segera buat janji dengan dokter lewat appointment center di 1-500-129 dan WA center 0889-1500-129.

