
Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap obesitas, semakin banyak pula orang yang mulai mencari berbagai pilihan untuk membantu menurunkan berat badan. Salah satu terapi yang kini banyak diperbincangkan adalah Tirzepatide, obat yang bekerja pada hormon tertentu untuk membantu mengatur nafsu makan, asupan makanan, dan metabolisme tubuh.
Meskipun Tirzepatide dapat menjadi salah satu pilihan terapi untuk kondisi tertentu, bukan berarti obat ini cocok dan aman digunakan oleh semua orang. Ada kondisi kesehatan tertentu yang perlu menjadi perhatian, termasuk beberapa kondisi yang membuat Tirzepatide tidak boleh digunakan.
Sebelum memutuskan menggunakan Tirzepatide, yuk kenali lebih jauh siapa yang dapat menggunakannya dan apa saja yang perlu diperhatikan.
Siapa yang cocok menggunakan Tirzepatide?
Tirzepatide merupakan obat resep yang digunakan untuk membantu mengontrol kadar gula darah pada orang dewasa dengan diabetes tipe 2. Obat ini diberikan melalui suntikan di bawah kulit dan umumnya digunakan satu kali dalam seminggu, sesuai dengan anjuran dokter.
Tak hanya itu, yang membuat Tirzepatide berbeda adalah cara kerjanya yang menargetkan dua hormon inkretin sekaligus, yaitu GLP-1 dan GIP. Kedua hormon ini berperan dalam mengatur kadar gula darah dan nafsu makan. Dengan meniru kerja keduanya, Tirzepatide membantu tubuh mengontrol gula darah sekaligus dapat memberikan efek pada rasa kenyang dan asupan makanan.
Namun, Tirzepatide bukan berarti cocok untuk semua orang. Penggunaannya perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan, kebutuhan, serta riwayat medis masing-masing. Karena itu, sebelum memulai terapi, penting untuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.
1. Pasien dengan Diabetes Tipe 2
Tirzepatide dapat digunakan pada orang dewasa dengan diabetes tipe 2 untuk membantu mengontrol kadar gula darah. Pemilihan terapi tetap perlu mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.
2. Orang Dewasa dengan Obesitas
Untuk pengelolaan obesitas, terapi berbasis GIP/GLP-1 seperti Tirzepatide dapat menjadi salah satu pilihan pada orang dewasa dengan BMI ≥25 kg/m² pada etnis asia. WHO memasukkan Tirzepatide sebagai salah satu terapi GIP/GLP-1 yang dapat digunakan dalam penanganan obesitas jangka panjang.
3. Orang dengan Overweight dan Masalah Kesehatan Terkait Berat Badan
Pada kelompok dengan BMI yang belum masuk kategori obesitas, obat penurun berat badan dapat dipertimbangkan pada kondisi tertentu, terutama bila terdapat masalah kesehatan yang berkaitan dengan berat badan, seperti hipertensi atau diabetes tipe 2.
Namun, angka BMI bukan satu-satunya pertimbangan. Dokter juga perlu melihat kondisi kesehatan secara menyeluruh, termasuk riwayat penyakit, obat yang sedang digunakan, serta manfaat dan risiko terapi bagi masing-masing pasien.
Tidak Direkomendasikan Saat Hamil
Tirzepatide tidak direkomendasikan untuk digunakan selama kehamilan, terutama untuk tujuan menurunkan berat badan. Data mengenai keamanannya pada ibu hamil masih terbatas, sehingga penggunaannya perlu dihindari dan dikonsultasikan dengan dokter. WHO juga tidak merekomendasikan terapi GIP/GLP-1 untuk obesitas pada ibu hamil karena belum tersedia bukti keamanan yang memadai.
Selain itu, penurunan berat badan memang bukan tujuan terapi selama kehamilan. Beberapa sumber juga menjelaskan bahwa weight loss umumnya tidak direkomendasikan selama kehamilan karena kebutuhan nutrisi dan pertumbuhan janin perlu menjadi perhatian utama.
Konsultasi dengan Spesialis Endokrin dan Diabetes
Meskipun tersedia berbagai pilihan terapi untuk membantu menurunkan berat badan, pemilihan terapi yang tepat perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien. Karena itu, konsultasi dengan Dokter Spesialis Endokrin, Metabolik dan Diabetes penting dilakukan sebelum memulai terapi, termasuk tirzepatide.
Untuk mendapatkan penanganan dan evaluasi terapi yang tepat, Anda dapat berkonsultasi di Poli Diabetes Connection Care (DCC) Eka Hospital. Buat janji sekarang melalui WhatsApp Center 0899-1500-129 atau Call Center 1500-129.

