
Orangtua mana yang tidak khawatir ketika menemukan kantung zakar anak tampak kosong atau hanya teraba satu testis. Apakah ini berbahaya atau bisa sembuh sendiri? Simak penjelasan dari dr. Ronald Sorongku, Sp.BA, Subsp.UA (K), Dokter Spesialis Bedah Anak di Eka Hospital Depok.
Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai Undescended Testicle (UDT) atau kriptorkismus. Jika dibiarkan tanpa penanganan medis yang tepat, kondisi testis yang tidak turun tidak hanya memengaruhi fungsi reproduksi anak saat dewasa, tetapi juga meningkatkan risiko terjadinya tumor atau kanker testis.
Penyebab testis tidak turun
dr. Ronald Sorongku mengatakan, saat masih berada di dalam kandungan, testis bayi sebenarnya tumbuh dan berkembang di dalam rongga perut. Seiring bertambahnya usia kehamilan, testis secara bertahap akan turun melewati saluran lipat paha menuju ke dalam skrotum mendekati waktu kelahiran.
Namun, pada sebagian bayi, terutama yang lahir prematur atau memiliki berat badan lahir rendah, proses penurunan ini bisa tertahan di area perut atau lipat paha.
Beberapa faktor pemicunya antara lain:
- Gangguan hormonal pada ibu atau janin selama kehamilan.
- Kelahiran prematur sebelum proses penurunan testis selesai secara alami.
- Kelainan struktur anatomi pada saluran penurunan testis.
Risiko komplikasi
dr. Ronald Sorongku mengatakan, banyak orang tua menganggap kondisi UDT bisa membaik dengan sendirinya. Padahal, testis membutuhkan suhu yang lebih dingin dibanding suhu dalam tubuh agar sel-sel pembentuk sperma dan jaringan testis dapat tumbuh secara normal.
Jika testis terus berada di dalam rongga perut atau lipat paha yang bersuhu lebih hangat, risiko komplikasi berikut dapat terjadi:
- Risiko tumor testis: Sel-sel testis yang terpapar suhu tinggi tubuh dalam jangka panjang berisiko mengalami perubahan struktur abnormal, yang meningkatkan risiko kanker hingga belasan kali lipat dibanding kondisi normal.
- Gangguan kesuburan (infertilitas): Paparan suhu panas yang berkepanjangan merusak sel-sel pembuat sperma, sehingga berisiko memicu gangguan kesuburan saat anak dewasa kelak.
- Testis terpelintir: Testis yang terletak di area lipat paha lebih rentan mengalami gangguan aliran darah akibat terpelintir, yang menimbulkan nyeri hebat secara mendadak.
- Hernia inguinalis: Kondisi UDT seringkali disertai dengan terbentuknya benjolan hernia di lipat paha.
Kapan harus ke dokter?
dr. Ronald Sorongku menjelaskan, pada beberapa bayi baru lahir, testis masih dapat turun secara alami dalam rentang usia 3 hingga 6 bulan pertama. Namun, jika hingga memasuki usia 6 bulan testis belum juga turun ke dalam skrotum, kemungkinan kecil kondisi ini akan membaik secara spontan.
Penanganan medis idealnya dilakukan sebelum anak berusia 12–18 bulan melalui tindakan evaluasi dan operasi penataan posisi testis. Penanganan dini sangat penting untuk menyelamatkan fungsi organ reproduksi dan mengurangi risiko tumor pada masa depan anak.
Konsultasi Spesialis Bedah Anak di Eka Hospital Depok
Deteksi dini dan penanganan yang tepat oleh dokter spesialis bedah anak merupakan kunci utama untuk mencegah komplikasi bahaya akibat kriptorkismus. Jika Anda mencurigai adanya kelainan pada kantung zakar si kecil, jangan menunda untuk berkonsultasi.
Untuk evaluasi medis, penanganan komprehensif, dan prosedur tindakan bedah rekonstruksi organ anak yang presisi, Anda dapat menemui ahlinya secara langsung dr. Ronald Sorongku, Sp.BA, Subsp.UA (K), Dokter Spesialis Bedah Anak (Subspesialis Urologi Anak) di Eka Hospital Depok.
Segera buat janji dengan dokter lewat appointment center di 1-500-129 dan WA center 0889-1500-129.

